Baiknya Gimana?

Baiknya Gimana?

Oleh : Nur Wulan Nugrahani | Pilar PKBI Jawa Tengah

 

Ketika terjebak dalam suatu kondisi sulit, kita lebih sering bertanya “enaknya gimana?” daripada bertanya “baiknya gimana?”. Inilah yang membuat kita mencari jalan yang lebih enak dan mudah untuk dijalankan daripada mencari jalan terbaik.

Itulah kutipan dari fasilitator kami yang cukup menggambarkan apa yang saya dapat selama berproses di Pelatihan Fasilitator untuk Modul CSE Luar Sekolah yang diselenggarakan di Jakarta, 11-14 September 2018. Pelatihan ini diikuti oleh sebelas lembaga anggota ASV dari seluruh Indonesia, dengan berbagai kondisi komunitas di daerah implementasi yang beragam. Menurut saya implementasi metode di modul CSE untuk sekolah saja sudah sangat unik, ternyata kali ini kami diajak bereksperimen dengan metode-metode yang lebih menantang untuk komunitas.

Hari pertama membahas mengenai tujuan implementasi modul ini dan apa yang harus dipersiapkan. Remaja luar sekolah sendiri berarti remaja yang, baik sekolah atau tidak sekolah, akan menerima materi mengenai HKSR di luar pembelajaran sekolah ataupun di komunitas. Tantangan yang ada adalah bagaimana fasilitator bisa menyesuaikan cara bagaimana cara remaja belajar, yang tentunya berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang di suku terpencil, geng anak motor, rural, hingga perkotaan. Hal inilah yang menjadikan diskusi selama pelatihan semakin seru, karena kami dituntut untuk bisa memanfaatkan apa yang ada di komunitas untuk mendukung proses belajar. Misalnya, siapakah tokoh kunci yang bisa mendukung proses? Dimana tempat yang strategis untuk menggaet remaja? Kapan bisa bertemu remaja di sela-sela kegiatan hariannya? Langkah ini nantinya akan dilakukan bersama dengan remaja di komunitasnya sendiri. Menarik sekali!

Bab-bab yang ada di modul dibahas mulai hari kedua hingga keempat. Biasanya, materi pubertas disampaikan terlebih dulu, baru materi mengenai gender. Uniknya, di modul ini bab pertama membahas mengenai gender. Alasannya untuk menanamkan respek pada laki-laki maupun perempuan, baik secara fisik, tugas, dan peran. Metode yang dipakai cukup berbeda dengan biasanya, juga banyak mengangkat fenomena-fenomena yang ada di komunitas dengan observasi di lingkungan remaja itu sendiri. Kebayang gak tuh ketika dilakukan bersama remaja di komunitas? Pastinya kita akan banyak mendapat fakta-fakta menarik yang bisa dijadikan pembelajaran bersama.

Saya sendiri sangat terkesan dengan metode-metode di bab pubertas. Remaja dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan perubahan fisik, psikologis, dan sosial pada perempuan dan laki-laki. Selanjutnya peserta diarahkan untuk menandai perubahan yang tidak disukai. Berbagai hal muncul ketika mendiskusikan alasan tidak suka terhadap perubahan. Ada yang merasa berbeda, tidak nyaman, minder, membandingkan dengan sesamanya, dan sebagainya. Selanjutnya setiap peserta diajak untuk menulis hal-hal positif peserta lainnya, yang akan kembali ke peserta tersebut tulisan hal-hal positif yang ada pada dirinya. Menurut saya, metode ini akan sangat berdampak positif bagi remaja di komunitas, dan memotivasi remaja untuk berpikir positif baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain.

Hal seru lainnya adalah kita bisa mengenal macam-macam pembalut dan bahkan membuat sperma dari tepung kanji. Hal ini penting agar remaja tidak merasa tabu terhadap pembalut maupun sperma. Bahkan sangat penting bagi remaja baik perempuan maupun laki-laki untuk mengenal bagaimana wujud sperma. Bagi laki-laki penting untuk mengetahui tanda pubertas yang terjadi pada dirinya karena mengalami mimpi basah, sedangkan bagi perempuan penting untuk mencegah dirinya menjadi korban pelecehan seksual. Cairan sperma bisa loh dijadikan bukti visum jika terjadi kasus pelecehan.

Ketika implementasi pastinya akan ditemui berbagai tantangan dalam penyampaian mengenai HKSR bagi remaja di komunitas. Namun, keberagaman kondisi lingkungan dan karakteristik remaja akan menjadi keunikan tersendiri. Dengan menjadi sehat secara seksual dan reproduksi sejak di komunitas, remaja akan berdaya secara positif dalam bermasyarakat dan bernegara. Jadi, baiknya begini nih!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *