Agustus 8, 2017

CERITA REMAJA

 

Cerita Rizki Aditya (Yayasan Pelita Ilmu)

Nama Saya Rizki Aditya, usia delapan belas tahun dari Forum Peduli Kesehatan Remaja Indonesia (FPKRI).  Saya bergabung dengan FPKRI tahun 2017 setelah mendapatkan informasi dari teman yang Praktik Kerja Lapangan(PKL)  di Yayasan Pelita Ilmu (YPI). Dia menginformasikan kepada saya kalau FPKRI membuka rekruitmen untuk anggota remaja baru periode 2017.

Manfaat yang saya rasakan setelah bergabung ke FPKRI adalah saya menjadi paham tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), menjadi tahu adanya kekerasan psikis dalam pacaran selain kekerasan fisik.  Dari situ saya menjadi tahu kalau teman-teman saya yang perempuan banyak yang mengalami Kekerasan Dalam Pacaran. Saya menjadi teman curhat mereka, hal ini didukung dengan latar belakang pendidikan  saya di SMK bidang Pekerjaan Sosial yang membekali saya dengan pengetahuan tentang konselor, mediator, dan motivator.  Apabila teman ada yang curhat, saya bantu dengan memberikan saran dan motivasi agar mereka dapat melindungi dirinya dari kekerasan dalam pacaran.

Manfaat lain yang saya dapatkan adalah saya mempunyai banyak teman baru, bisa bertemu dengan para pemegang kebijakan, berkawan dengan ODHA dan banyak lagi. Selain itu saya juga dapat dukungan dari FPKRI  dalam mengembangkan hobi saya  membuat website dan bermain program photoshop .

 

Cerita Ayi Erdian (PMI Jakarta Timur)

Namaku Ayi Erdian, umur duapuluh satu tahun. Awal mula aku tahu Palang Merah Indonesia (PMI) karena aku mengikuti ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMP dan SMK. Ilmu yang aku dapat  saat itu hanya ilmu dasar yang memang wajib dikuasai seperti pertolongan pertama, tandu darurat, perawatan keluarga, leadership dan lain-lainnya.

Kemudian ada open recruitmen Korps Sukarela (KSR)  PMI Jakarta Timur. Awalnya aku tidak tertarik,  namun karena ada teman PMR di SMK yang mendaftar, akhirnya akupun ikut mendaftar juga. Sebelum dilantik menjadi anggota KSR, aku harus mengikuti beberapa pelatihan wajib untuk menjadi sukarelawan. Pada Bulan Desember 2013 aku resmi menjadi anggota KSR PMI Kota Jakarta Timur.

Perkenalanku dengan isu HKSR dimulai pada tahun 2017, saat  mengikuti pelatihan fasilitator dance 4 life (d4l). Sebenarnya tahun 2013, aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang sama, namun aku terpaksa menolaknya karena berbentrokan dengan agendaku yang lain. Dalam pelatihan itu aku tidak hanya mendengarakan ceramah dari fasilatator saja, namun juga mencari informasi yang lain mengenai isu-isu HKSR sehingga aku menjadi lebih paham  tentang hal-hal penting seputar isu HKSR.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan fasilitator d4l adalah adanya pertemuan setiap bulan. Salah satu agenda dalam pertemuan itu adalah pemilihan ketua Youth Center PMI Jakarta Timur dan aku masuk dalam salah satu kandidatnya. Hasilnya aku mendapatkan suara terbanyak. Akupun mulai mencari informasi mengenai bagaimana mengelola Youth Center. Kebetulan aku berpartisipasi dalam  Capacity Building Youth ASV di Jogja tahun 2017 yang mempertemukanku dengan remaja dari daerah lain di Indonesia. Di sini aku bisa mendengar pengalaman mereka, berdiskusi dengan mereka terutama dalam program untuk remaja.

 

Cerita Rezeki Ayu Widia (PKBI Jawa Timur)

Hallo Gaeessss..

Perkenalkan nama aku Rezeki Ayu Widia, biasa dipanggil Jeki, usia ku saat ini 19 Tahun. Aku asli orang Madura yang sedang menempuh kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Sekarang aku sedang aktif di suatu program remaja PKBI JawaTimur yang disebut SeBAYA. SeBAYA ini merupakan suatu wadah layanan dan informasi bagi remaja khususnya di ruang lingkup Jawa Timur supaya dapat meng-akses informasi mengenai HKSR.

SeBAYA ini sudah ada sejak tahun 1980 dan sampai sekarang masih tetap mempertahakankan eksistensinya dibidang HKSR khususnya bagi remaja. Aku bergabung di SeBAYA PKBI Jawa Timur ini sejak tahun 2016, sama seperti awal masuk aku kuliah di Surabaya. Jadi, awal mula aku tau SeBAYA ini dari kakak tingkat aku yang juga jurusan Psikologi angkatan 2013. Kakak tingkat aku ini awalnya hanya menyampaikan secara besar aja SeBAYA itu seperti apa dan kegiatannya apa saja. Sangat jelas, memang kegiatan di SeBAYA ini juga sangat berkaitan dengan Psikologi. Dengan senang hati aku langsung mendaftar ke SeBAYA PKBI Jawa Timur untuk menjadi seorang relawan, yang harus mengikuti beberapa tahapan tes. Sampai pada akhirnya aku dan ke 23 orang temanku yang lain juga lolos menjadi seorang relawan.

Ohya, Btw .. Sudah 2 tahun aku menjadi seorang relawan di SeBAYA PKBI Jawa Timur loo. Banyak Gaessss banget maanfaat yang aku peroleh ketika menjadi seorang relawan. Jadi begini, Sedikit bercerita di awal aku menjadi seorang relawan di SeBAYA PKBI Jawa Timur ini sangat takut untuk berbicara, karena hmm jujur ini aku kurang percaya diri semenjak pindah ke Surabaya, karena aksen atau logat bicara aku sangat terlihat kalau aku berasal dari Madura, teman-teman lain malah ketawa, merasa ada yang lucu kalau aku bicara, kaaan aku jadi gak percaya diri guys. Tapi seiring berjalannya waktu, aku harus benar-benar berubah, mau tidak mau aku tetap harus berani, toh aksen daerah memang menjadi ciri khas aku kan guys hehe. Setelah itu aku benar-benar bisa menjadi relawan yang sepenuhnya, ikut memberikan sosialisasi mengenai HKSR ke sekolah-sekolah,  berkumpul dengan teman-teman komunitas di Surabaya yang sampai sekarang menjadi mitra strategis SeBAYA, naaaah dari hal itu saja aku sudah bisa mendapat banyak kebermanfaatan. Selain itu manfaat yang aku peroleh adalah bisa memberikan konseling terhadap remaja-remaja yang memiliki masalah, mengenal banyak orang-orang hebat yang paham tentang HKSR,  berkegiatan dengan banyak orang, bermitra dengan dinas, pergi ke PKBI lain untuk sharing, bahkan sampai pada akhirnyaaaaaa, untuk pertama kalinya aku tampil di stasiun tv lokal Surabaya, Talk show untuk menjelaskan tentang program remaja, permasalahan remaja, dan lain-lain. Sebenarnya masih banyak manfaatnya, Cuma aku gakbisa menyampaikan semuanya, biar kalian yang baca pada penasaran, terus bisa jadi relawan kayak aku hehehehe…..

Kebayanglah, baru dua tahun udah banyak banget manfaat yang aku dapatkan. Gak nyesel deh ya menjadi relawan di PKBI Jawa Timur inii hehehe … yaa namanya relawan bekerja dengan ikhlas tanpa gaji hehehe.. yang penting niatnya harus sungguh-sungguh!!

 

Cerita Clianta de Santo (Rifka Annisa)

Hai… Nama Clianta de Santo, tapi teman-teman sering memanggil saya Gema. Umur saya dupuluh satu tahun.

Manfaat aku ikut acara ini, untuk diriku sendiri ya jelas menambah pengalaman, pengetahuan, dan juga jaringan. Seperti yang sudah pernah diutarakan sewaktu presentasi, walaupun kalau dalam ASV, aku masuknya remaja ASV, tapi kegiatan yang aku lakukan di Lembaga jauh sekali dengan apa yang dilakukan teman-teman dari Lembaga lainnya karena RIfka Annisa belum punya Youth Forum. Tapi tahun ini Rifka sudah dan sedang merencanakan adanya Youth Forum,  sehingga sangat berguna kedatangan aku disini, siapa tahu bisa memberikan usul dan saran kepada teman-teman di Rifka Annisa mengenai pembentukan Youth Forum. Ikut terlibat dalam pembuatan artikel untuk media sosial ASV juga merupakan kesempatan yang bagus untukku dan teman-teman, semoga rencana-rencana ini berjalan lancar dan terwujudkan. Pesannya untuk teman-teman, aku sangat senang bisa menjadi bagian untuk Workshop Remaja ASV tahun ini, semoga kedepannya lebih baik dan keberadaannya tetap memegang teguh visi dan misi ASV.

 

Cerita AA Ary Anila Kusuma Wardani (PKBI Bali)

Perkenalkan, nama saya AA Ary Anila Kusuma Wardani, namun saya lebih senang jika dipanggil Gary (hehehe). Saya  berasal dari Kota Denpasar, Bali dan di dalam kegiatan Pertemuan Remaja Aliansi Satu Visi ini menjadi perwakilan dari Forum Remaja Bali. Asal mula saya mengenal lembaga ini adalah ketika saya masih menjadi ketua komisi jaringan pada kepengurusan Forum Anak Daerah (FAD) Kota Denpasar periode 2015-2017. Saat itu, di bulan November 2016, kami di FAD Denpasar mendapat kiriman surat dari PKBI Bali untuk hadir dalam pembentukan dan penggabungan berbagai organisasi yang memiliki concern pada hal-hal yang berhubungan dengan anak dan remaja. Saat pertemuan tersebut, saya masihlah seorang Gary yang sangat takut dan risih jika diajak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi, sex, dan yang lainnya. Karena didikan dalam keluarga saya dan lingkungan saya yang cukup “mentabukan” semua isu tersebut. Setelah pertemuan tersebut, terbentuklah sebuah organisasi yang mewadahi berbagai komunitas/organisasi anak dan remaja yang diberi nama “Forum Remaja Bali”.

Pada awalnya, selain memiliki rasa risih da takut jika berbicara mengenai isu reproduksi dan hal yang berkaitan dengan hal tersebut, saya juga masih memiliki rasa “jijik” dengan teman-teman yang hamil di luar nikah dan melakukan pernikahan dini, kaum LGBT (karena menurut kepercayaan saya hal tersebut dapat terjadi karena faktor karma phala/hasil perbuatan pada kehidupan terdahulu), dan ditambah pula dengan pengetahuan saya yang terbatas dengan isu HIV/AIDS dan alat kontrasepsi.

Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya saya berkecimpung di dalam berbagai kegiatan bersama Forum Remaja Bali dan KISARA PKBI Bali, perlahan, rasa takut, jijik, risih, dan segala macam perasaan aneh tersebut memudar. Diiringi dengan semakin bertambahnya wawasan dan pengetahuan saya terkait berbagai isu tersebut. Jadi, jika dipikir-pikir, rupanya tak sia-sia jika saya sebagai salah satu bagian dari FAD Denpasar dan Forum Remaja Bali ini, selain mendapatkan banyak ilmu, pengalaman, dan teman baru, saya juga belajar untuk menghapus berbagai pemikiran buruk dan berbagai emosi negatif saat saya bertemu dengan isu-isu HKSR di sekitar saya.

 

Cerita Fisa Sasmawati Wibowo (PKBI DIY)

Hai aku Fisa Sasmawati Wibowo, umurku 21 tahun dari PKBI DIY. Ok aku mau share pengalamanku kenal dan berproses dengan PKBI DIY selama 7 tahun. Awal tau PKBI DIY dari ekstra kurikuler di SMK ku namanya PE, aku kira PE adalah ekskul diskusi bahasa inggris. ternyata lain dari dugaanku. Lensa (lentera sahaja) selaku CO PE disekolahku dateng ngenalin isu-isu kespro. Baru awal masuk udah ngomongin pacaran sehat, ini topic yang cukup menarik buat aku. Karena cuman bahas pacaran aja bisa sampe perilaku seksual dan resikonya. Dan itu pas sama kondisi remaja. Banyak remaja yang jadi korban KDP, melakukan hubungan seks,KTD.

Banyak banget manfaat yang aku dapet dari PKBI DIY. Mulai dari ilmu, pengalaman yang luar biasa seperti ; bisa terlibat di pembuatan PERGUB kespro,monitoring progam PKPR,terlibat dikegiatan nasional,mendampingi remaja korban KDP dan KTD,advokasi,audiensi dengan DPR,Tomas,Dan SKPD terkait , belajar dan bertemu orang-orang hebat, sampai ngerubah cara berpikirku untuk lebih kritis. Pengalaman yang gak bakal aku lupain adalah ketika PKBI DIY memintaku untuk jadi narsum di acara world population day 2012 di hotel ambarukmo plaza,disana aku share pengalamanku jadi aktivis remaja dan satu panggung dengan gusti mangkubumi (anak pertama sri sultan), dokter dan orang kemenkes.  Wow ditengah-tengah orang sedang menstigma bahwa remaja itu nakal,remaja tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi justru PKBI berbeda? Mereka justru memberi kesempatan untuk remaja. Apresiasi dengan PKBI DIY yang berani mempercayai remaja untuk dapat langsung menyuarakan aspirasinya,dan meyakinin bahwa remaja dapat melakukan perubahanya. Kesempatan dan kepercayaan PKBI DIY pada remaja yang menjadikan YF DIY tetap berjuang bersama untuk remaja.karena kami merasa mendapat dukungan penuh dari PKBI DIY.partisipasi remaja yang bermakna dapat dilihat dari adanya 4 remaja dampingan di kepengurusan PKBI DIY . remaja ikut dilibatkan dalam mengambil kebijakan dan mengusulkan progam yang sesuai dengan kebutuhan.

 

Cerita Firman Syaleh (GWL-INA)

Nama saya Firman Syaleh, usia pada saat ini 27 Tahun yang berasal dari Jakarta dengan organisasi asal dari Perkumpulan Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL-INA), mengetahui GWL-INA dari salah seorang teman dan dia mengajak ke Kantor Perkumpulan Gaya Warna Lentera Indonesia ketika membentuk sebuah Organisasi Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Merah Muda, KDS yang dibentuk juga didaftarkan ke Jaringan Anggota GWL-INA. Hubungan lebih intens dengan GWL-INA, Saat saya mulai terjun menjadi Voulenteer pada salah satu anggota GWL-INA yang juga sebagai SSR dari SR GWL-INA yang berfokus kerja pada penganggulangan HIV dan AIDS di Kota Jakarta pada komunitas LSL, yaitu Yayasan Inter Medika.

Jaringan GWL-INA sering melibatkan organisasi KDS Merah Muda dalam hal peningkatan kapasitas, saya sebagai salah satu pengurus sering diikutsertakan. Keterlibatan yang pernah diikuti dimulai dari tahun 2016 sampai 2017. Sampai pada akhirnya pada tahun 2017 dengan berfokus bekerja pada penjangkauan pada salah satu SSR GWL-INA Yayasan Pesona Jakarta (YPJ) mendapatkan rekomendasi dari YPJ dan berhasil lolos pada Leader’s of tommorow (LOFT) 2017 lebih mengenal dan bergabung dengan GWL-INA.

Manfaat yang didapatkan bergabung di Sekretariat Nasional GWL-INA yang juga merupakan perwakilan dari divisi Muda, banyak pengalaman dan manfaat yang didapatkan. Pengalaman yang tidak dapat dilupakan adalah bekerja pada Skala nasional dan koordinasi kepada teman-teman Muda, belajar bagaimana cara menyusun strategi yang tidak dapat dipisahkan dari rencana strategis jaringan GWL-INA, berpikir kritis dan kelibatan bermakna dalam berbagi ilmu dan memberikan manfaat kepada teman-teman muda di daerah agar lebih berpartisipasi lagi di organisasinya. Mengarusutamakan teman-teman muda lebih sadar terhadap hak kesehatannya dan juga Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, selain itu saya dapat percaya diri berbicara di depan banyak orang dan memfasilitasi teman-teman muda di daerah. Manfaatt lainnya adalah Pemanfaatan media sosial kepada teman-teman muda dan mengedukasi mereka bagaimana membuat artikel dan menjadi fokal point di masing-masing daerahnya. Jadi kalau berbicara manfaat bergabung pada GWL-INA sangat banyak sekali dan menyenangkan bekerja pada orang-orang muda.

 

Cerita Ekki (Aliansi Remaja Independen)

Dulu saya  berpikir bahwa semakin berumur seseorang maka orang tersebut adalah orang yang paling tahu segalanya, dan mereka berpengalaman jadi mereka tahu apa yang salah dan benar, apa yang berhasil dan gagal, serta apa yang baik dan buruk. Namun selama saya masuk dalam sebuah organisasi yang sangat unik, organisasi yang isinya adalah anak muda dan dipimpin oleh anak muda yaitu Aliansi Remaja Independen (ARI).

Saya Ekki mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta. Saya tergabung di ARI dari tahun 2014, selama saya bergabung di ARI ada banyak sekali hal-hal baru yang saya dapat di organisasi ini. Belajar banyak dan juga memahami hal-hal yang menurut saya akan sulit dipahami dan tidak mudah didapatkan di luar sana termasuk dilingkup paling kecil yaitu keluarga. Hal-hal ini adalah bagaimana saya bisa belajar dan memahami tentang  gender, hak kesehatan seksual dan reproduksi, dan yang paling penting adalah youth empowerment. Saya yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan cukup untuk bersuara, tidak percaya diri untuk bermitra atau bekerja sama dengan orang dewasa serta memiliki ketakutan-ketakutan lainnya yang sering dialami oleh anak muda pada umumnya menjadi anak muda yang lebih berani untuk bekerjasama dengan orang dewasa seperti stakeholder.  Selama saya bergabung dan berproses dengan ARI banyak hal yang saya pelajari termasuk untuk berani bekerja/bermitra secara profesional dengan orang dewasa. Walaupun remaja dinamis dan masih dalam proses belajar dan memahami dirinya sendiri namun orang dewasa dalam ARI maupun mitranya cukup bisa membantu remaja untuk berdaya secara bertahap.

 

Cerita Rizki Aprilia (PKBI Jawa Tengah)

Nama saya Rizki Aprilia biasa dipanggil kiki umur 19thn dari PILAR PKBI Jawa Tengah .

Awal saya bergabung di PILAR PKBI Jateng di tahun 2013 . Pertama kali bergabung saat saya mengikuti eskul PMR  di SMA . Di SMA saya Eskul  PMR di sekolah include dengan PE  (Peer Educator) dari Pilar PKBI Jateng sehingga ketika dari Pilar PKBI datang ke sekolah untuk memberikan edukasi disitu saya terlibat. Awalnya saya tidak begitu tertarik ,hingga akhirnya saya diminta mewakili dari sekolah dengan kakak kelas saya di acara Rembug Nasional PKBI 2013 di Jakarta , dari acara itu saya mendapatkan banyak manfaat dan wawasan yang luas seputar HKSR . Setelah saya balik ke semarang saya juga biasa saja belum trlalu tertarik. Beberapa bulan orang tua saya mendapat kabar dari tante saya bahwa anak perempuannya hamil diluar nikah . Dari situ saya berfikir ulang ,ilmu yang diberikan saat saya dijakarta ternyata sangat bermanfaat bukan hanya untuk saya sendiri ,keluarga khususnya remaja. Dari sini saya mulai tertarik dengan isu HKSR kebetulan saya ketua PMR ,jujur dulu PE saya tidak aktif akhirnya saya mempunyai inisiatif untuk menghidupkan PE mulai dari  membuat ’kotak curhat di sekolah’ jadi disini teman – teman sekolah bisa memasukan apa saja permasalahan kalian boleh soal cinta,permasalahan pubertas atau lainnya. Awalnya banyak yang mengisi soal percintaan akhirnya Pembina PMR saya meminta Pilar PKBI Jateng untuk memfasilitasi . dari sini saya mulai tertarik dengan Pilar PKBI Jateng hingga akhirnya saya kuliah dan memilih untuk menjadi relawan di Pilar PKBI Jateng . Disini saya bukan semata-mata karna terpaksa atau coba – coba tetapi semata mata untuk membantu teman remaja  yang masih minimnya informasi tentang isu HKSR dan saya ingin membagi  pengetahuan yang Pilar PKBI Jateng berikan ke teman-teman remaja . trimakasih PILAR PKBI Jateng .

 

Cerita Ananius Donatus D Rure (IHAP)

Nama lengkap saya Ananius Donatus D Rure dan saya biasa dipanggil Nando. Saya lahir pada tanggal 25 januari 1996 dan sekarang saya berumur 22 tahun.Saya berasal dari Kabupaten Ngada yang merupakan salah satu kabupaten yang ada di NTT.Pada tahun 2014 saya berpindah ke ibu kota propinsi yaitu Kota Kupang untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas di Kota Kupang.Pada saat sedang menjalani perkuliahan di kota Kupang saya mencoba bergabung dengan beberapa organisasi pemuda lintas isu.Namun selama berada dalam beberapa komunitas atau organisasi tersebut saya tidak mendapatkan kenyamanan atau kesesuaian maupun passion dalam organisasi tersebut,sehingga waktu saya dalam organisasi tersebut tidak bertahan lama yaitu maksimal 3 bulan saja.Dan pada awal tahun 2016 saya merasa sangat beruntung sekali karena dipertemukan dengan satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  yaitu Instituta Hak Asasi Perempuan (IHAP) dengan isu yang diangkat oleh LSM ini adalah Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja dan Kekerasan Berbasis Seksual dan Gender.Pada Januari 2017 saya mengikuti FGD bersama beberapa komunitas remaja ragam identitas yang ada di kota Kupang.Dan pada Februari 2017 saya dipercayakan untuk menjadi Ketua pada komunitas remaja atau youth Forum  yang berada di bawah payung LSM ini dengan nama TeBe RK atau Teman Belajar Remaja Kupang..Pada awal  bergabung bersama komunitas ini banyak sekali pengetahuan dan pembelajaran yang kami dapatkan baik lewat diskusi maupun pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh IHAP. Tim IHAP juga selalu mendampingi komunitas kami dan satu hal yang kami dapatkan adalah bahwa TIM IHAP tidak pernah membuat jarak atau pembatas dengan kami,sehingga komunikasi diantara komunitas kami dengan IHAP selalu berjalan dengan baik dan kami tidak merasa segan untuk banyak bertanya dan menggali informasi.Beberapa hal yang membuat saya dan teman teman komunitas merasa nyaman dan tertarik berada dalam komunitas adalah karena komunitas kami diajarkan dan dilatih untuk menjadi komunitas remaja yang berdaya artinya kami sanggup menjalankan beberapa kegiatan dimana komunitas kami lah yang menjadi inisiator dalam kegiatan tersebut.Pengalaman lain yang kami dapatkan adalah kami belajar bagaimana bisa melakukan pengorganisasian yang baik dan kami ditanamkan jiwa kerelawanan.

Secara pribadi pada awal saya bergabung dengan komunitas remaja di bawah naungan IHAP ini dengan isu yang dianhgkat yang menurut saya begitu rumit saya sempat mengalami pergolakan batin dan membutuhkan cukup waktu untuk bisa menyakmakan presepsi saya.salah satu contoh ya dimana kita harus memprioritaskan nilai kemanusiaan tapi bertentangan dengan nilai Agama dan Budaya yang sudah ditanamkan sejak saya lahir.Ketiga hal ini menurut saya adalah yang paling berat karena sudah berhubungan dengan agama dan kebudayaan yang saya bawa sejak saya lahir salah satunya adalah yang berkaitan dengan dosa.Hal yang sangat luar iasa yang saya dapatkan adalah penerimaan atas diri saya sendiri.Saya akhirnya bisa menerima jika orientasi sekusal saya adalah Biseksual dan tidak menutup diri lagi serta menerima yang namanya LGBT dalam kehidupan saya.Pengalaman lain saya adalah saat saya dihadapkan dengan kasus seorang remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan dan menginginkan untuk aborsi.Awalnya ada penolakan dari  dalam diri mengenai aborsi pada remaja.Namun akhirnya pergolakan batin yang saya rasakan berakhir dengan pikiran baru saya adalah bahwa manusialah yang harus diselamatkan baik dari berbagai segi kehidupanya.Banyak pembelajran yang saya dapatkan dari IHAP,perubahan presepsi,pemikiran yang kritis dan penerimaan diri saya dan keberagaman yang ada pada remaja disekitar saya.

Terimakasih IHAP untuk pengalaman,pengetahuan,pembelajaran yang saya dapatkan.Ibarat kata Merubah presepsi dan menyamakan presepsi itu susah apalagi menerima keberagaman yang ada disekitar kita itu adalah hal yang sangat sulit. Tapi Tim IHAP telah berhasil mengubah kesulitan itu menjadi sesuat yang mudah.Kehidupan baru,Pemikiran baru telah saya dapatkan selama dibawah bimbingan IHAP.

 

Cerita Adhityas Putri Utami (PKBI DKI Jakarta)

Hallo Remaja hebat, perkenalkan nama saya Adhityas Putri Utami. Kalian bisa memanggil saya Tami, umur saya menginjak 21 Tahun. Saya berasal dari Jakarta, lebih tepatnya bergabung di dalam PKBI DKI Jakarta sebagai volunteers di Youth Center “Centra Mitra Muda”. Sedikit cerita awal saya bergabung adalah ketika saya harus memenuhi mata kuliah di Kampus, iya dulu awalnya saya adalah Mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri Jakarta. Yaaaa benar kampus dengan sapaan “kampus hijau”, Universitas Negeri Jakarta. Saat saya mengikuti mata kuliah Layanan Komunitas saya harus bergabung dengan salah satu komunitas di Jakarta dengan isu apapun itu. Saya mulai tertarik dengan PKBI DKI. Awalnya saya berpikir apa sih PKBI itu? Keluarga Berencana? KB? Saya mulai mencari tahu lewat internet, karena rasa penasaran saya besar maka datanglah saya ke kantor PKBI di belakang Stasiun Jatinegara. Saya sangat senang karena baru datang aja udah di sambut asiklah ya, mulai ada perkenalan komunitas jadi lebih tau PKBI apa dan yang penting ternyata bergerak untuk dan dari remaja karena ada Youth Centernya. Bukan hanya perkenalan, saya juga di berikan kapasitasi untuk memperkaya wawasan mengenai apa yag menjadi fokus dari PKBI. Setelah di kapasitasi banyak informasi, saya di ajak untuk praktik langsung. PKBI ini ada yang namanya Program Peduli dimana program ini dilakukan di Lapas Anak Selmba. WHAT? Lapas? Mendengar namanya aja serem ya kan? Isinya pejahat? Serem? Tapi kok anak?. Ketika saya datang ke Lapas pertama kali saya merasa takut, karena ternyata di campur dengan dewasa walaupun tahanannya beda. Mulai kenalan sama anak-anaknya. Mereka mengikuti banyak kelas yang dilakukan PKBI. Ada Kelas Musik, komik sampai psikososial. Kenapa harus dilapas? Remaja ini harus dipersiapkan ketika sudah bebas tentang kemampuannya dan juga kesiapan dirinya untuk di terima masyarakat. Mindset saya yang takut berubah jadi sedih, di usia mereka harus tidur dan makan di Lapas loh. Banyak kasus yang akhirnya saya temui dari mereka, mulai dari Pelecehan Seksual, Pemakai dan Pengedar Narkoba, Pencurian, Penodongan dan lain halnya. Bukan hanya ada kelas saja tetapi ada juga Konseling Individu dengan mereka bahkan sampai home visit. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil ketika saya bergabung dengan PKBI, mulai dari banyak ilmu dan informasi hasl kapasitasi, bisa tahu remaja dari banyak kacamata bahkan bisa bertemu dengan remaja hebat lainnya yang rela menghabiskan waktu, tenaga serta hal lainnya.

Soo. Kalo bukan kalian yang bergerak siapa lagi? Coba keluar dari zona nyamanmu, cari hal-hal bermanfaat yaaaa…

 

Cerita Syurya Annisa (PKBI Papua)

Nama saya Syurya Annisa. Saat ini saya berusia 22 tahun. Saya berasal dari Kota Jayapura dan merupakan perwakilan dari remaja mitra strategis PKBI Papua yaitu Youth Forum Papua. Saya menjadi volunteer di Youth Forum Papua sejak tahun 2013.

Youth Forum Papua merupakan forum yang mewadahi beberapa organisasi atau komunitas remaja di Papua dan mengangkat isu kesehatan reproduksi remaja. Awal mula saya mengenal Youth Forum Papua adalah saat baru masuk kuliah saya ditawarkan oleh kakak tingkat saya untuk bergabung dalam organisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja di kampus namanya PIK Pelangi Bersatu. Dari organisasi inilah saya mengenal Youth Forum Papua karena organisasi PIK merupakan salah satu organisasi yang diwadahi oleh Youth Forum Papua. Setelah mengenal dan bergabung dalam Youth Forum Papua, saya mulai mengenal PKBI Papua.

Banyak sekali manfaat yang saya rasakan setelah mengenal organisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja yang kemudian bergabung dalam Youth Forum Papua sampai mengenal PKBI Papua. Saya merasa setelah semua ini kapasitas saya sebagai remaja meningkat mulai dari pengetahuan sampai kesempatan untuk berpartisipasi langsung membuat perubahan untuk remaja khususnya di Papua. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk menambah pengalaman dan bertemu dengan orang-orang hebat. Saya juga belajar bagaimana pentingnya membangun jejaringdan meningkatkan skill yang bisa berguna bagi saya saat ini maupun di kemudian hari. Saya juga punya kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan remaja sampai yang awalnya hanya menjadi peserta kegiatan, saya bisa menjadi panitia dan pembuat kegiatan bahkan menjadi fasilitator dalam beberapa kegiatan.

Dari semua pengalaman dan pengetahuan yang saya peroleh hal yang paling saya rasakan bermanfaat dan berpengaruh bagi saya adalah pola pikir atau mindset saya yang sedikit demi sedikit berubah bahwa ternyata seksualitas itu bukan hal yang tabu untuk dibicarakan atau dipelajari selama untuk hal yang baik ya. Saya sangat bersyukur mempunyai kesempatan menjadi remaja yang memberikan dampak bagi remaja lain dengan semua kesempatan, pengalaman, dan ilmu yang saya miliki.

 

Cerita Sarah Indira (PKBI Jambi)

Saya Sarah Indira perawakilan PKBI Daerah Jambi. Saya bergabung di PKBI Daerah Jambi sejak 2011 dan saya masih duduk dibangku sekolah kelas 10 SMA. Terimakasih sebelumnya untuk PKBI Daerah Jambi yang sudah banyak berjasa dalam 7 tahun ini mulai dari SMA hingga lulus Sarjana. Banyak pengalaman yang sudah saya dapatkan sejak bergabung di PKBI Daerah Jambi. Tidak hanya dilevel nasional tetapi juga hingga level internasional. Berjejaring dengan lembaga lainnya dan termasuk menjadi anggota remaja ASV juga salah satu keberuntungan yang tidak bisa diungkap dengan kata. Yang tadinya saya tidak berani dalam mengutarakan atau memberi masukan didepan forum, ketika banyaknya penguatan kapasistas melalui training yang dibuat oleh PKBI Daerah Jambi maupun ASV, saya jadi terlatih dan mulai berani berbicara didepan forum. Hasilnya juga ketika sidang skripsi heheheh bisa berani walaupun dicampur aduk dengan rasa deg-degan ketika presentasi didepan dosen penguji. Balik lagi dengan 7 tahun lamanya saya berkecimpung di isu HKSR, saya semakin sadar bahwa penting informasi tersebut untuk saya bagikan kepada teman-teman remaja diluar sana dan memberi dorongan kepada remaja tersebut, mari kita bersuara dalam mempertahankan hak kita sebagai remaja. Karena kalau bukan kita siapa lagi. Jangan menutup diri ketika ada peluang untuk kita bisa bersama dalam membuat perubahan yang lebih baik. Perjuangan masih panjang, dalam memperjuangkan HKSR ini baik di daerah maupun dilevel nasional. Semoga PKBI Daerah Jambi,ASV dan semua lembaga yang ikut menyuarakan serta memperjuangkan HKSR ini bisa tetap bersemangat sampai pada tujuan dan hasil yang terbaik. Bersama kita bisa. Ale rasa Beta rasa.

 

Cerita Rita Fransisca Dwi Putri (WCC Cahaya Perempuan)

Hallo semuanya perkenalkan Nama Aku Rita Fransisca Dwi Putri usiaku 19 tahun aku berasal dari Kota Bengkulu aku mengikuti Forum Perempuan Muda  (FPM)Provinsi Bengkulu, dampingan Cahaya Perempuan. Aku tahu Cahaya Perempuan saat diundang untuk pembentukan mitra strategis di kelurahanku. Pada awalnya aku tidak tahu apa itu Cahaya Perempuan dan Women Crisis Center (WCC), namun setelah mendapatkan penjelasan dari Kak Tini Rahayu, salah satu staf lapang Cahaya Perempuan, aku menjadi paham apa yang Cahaya Perempuan kerjakan dan tertarik untuk bergerak bersamnya.

Pada saat dibentuk di kantor Kelurahan Berkas,  antusias remaja di sana sangat bagus sehingga kami langsung membentuk kelompok yang kami beri nama WCC Edelwies Kelurahan Berkas.

Manfaat yang aku dapatkan setelah mengikuti forum perempuan muda dampingan Cahaya Perempuan ini salah satunya adalah persoalan  kesehatan reproduksi, awalnya aku tidak paham bagaimana cara menjaga organ reproduksi. Dengan mengikuti forum ini aku dapat mempelajari cara menjaga organ reproduksiku dan aku juga bisa menjawab jika teman-temanku yang bertanya tentang kespro

Forum Perempuan Muda dampingan Cahaya Perempuan juga dilatih untuk untuk menjadi konselor sebaya, karena menurut survey kami kepada teman-teman sebaya,  mereka  lebih nyaman jika menceritakan masalahnya dengan teman-teman sebayanya dibandingkan dengan Guru BK ataupun orang yang jauh lebih tua dari meraka. Karena  jika bercerita dengan teman sebaya, mereka  tidak memiliki takut dan cemas,  mereka bebas mau bercerita tentang apapun

 

Cerita Rita Susanti (SIKOK)

Relawan adalah seseorang yang bekerja secara sukarela, tidak dipaksa, tidak terikat dan tidak mengharapkan imbalan atas apa yang dia kerjakan. Relawan bekerja tidak berdasarkan nilai rupiah yang akan dihasilkan namun lebih tunduk kepada nilai kemanusiaan dan perasaan puas hati akan manfaat yang akan dia berikankepada orang lain dengan kerja sukarelanya. Seperti itulah posisi saya pribadi didalam lembaga yang sudah megajarkan saya banyak hal. Saya, Rita Susanti sudah bergabung menjadi relawan di SIKOK Jambi sejak tahun 2012. Saya bergabung dengan SIKOK karena program DAKU! Sekolah yang saya pilih sebagai ekstrakurikuler waktu itu. Terhitung sudah 6 tahun saya bergabung dengan SIKOK.

SIKOK sendiri adalah lembaga yang memberikan edukasi HKSR (CSE) kepada remaja sekolah yang ada di Kota Jambi, tidak heran kalau saya sudah terlibat sejak usia 15 tahun. SIKOK memberikan saya banya pengalaman yang berharga, banyak sekali. Mulai dari mengajarkan bagaimana menjadi pendidik sebaya,konselor sebaya, jurnalis remaja, melatih kepemimpinan diri sampai kepada melatih public speaking. Dari dan di SIKOK saya banyak belajar bagaimana menempatkan diri didalam kerumunan formal maupun informal. SIKOK sendiri sudah menjadi keluarga kedua untuk saya, saya bertemu dengan banyak teman dan sesepuh yang sangat hebat. Saat ini direktur yang memimpin adalah ibu Ratna Dewi, perempuan hebat yang mampu bertahan ditengah krisis pelik yang melanda SIKOK. Dan yang jelas, saya bahagia sudah menjadi bagian dari SIKOK.

 

Cerita Ria Silsiliyani (PKBI Lampung)

Hallo semuanya! Perkenalkan, namaku Ria Silsiliyani dari PKBI Lampung. Usiaku 19 tahun dan aku berasal dari Kota Bandarlampung, ibukota dari Provinsi Lampung.  Dalam tulisan ini aku ingin menceritakan secara singkat bagaimana aku bisa bergabung aktif sampai dengan sekarang. Pertama kali aku mengenal PKBI Lampung adalah di Tahun 2012. Kala itu, PKBI Lampung datang dengan program menarik yang ditujukan untuk remaja sekolah yaitu dance4life. Kebetulan, sekolahku menjadi bagian dari rangkaian tur dance4life di Provinsi Lampung. Dalam kegiatan itu, merupakan kali pertamaku juga mendapatkan pengetahuan seputar HKSR dan HIV dan AIDS. Sebelumnya, aku tidak memiliki kapasitas tentang itu, karenanya aku jarang sekali mebicarakan isu-isu yang ada didalamnya.

Tetapi semenjak PKBI Lampung datang dan mengedukasi ku secara singkat, aku sangat tertarik untuk belajar lebih dalam tentang isu HKSR. Tujuanku inilah yang akhirnya membuatku bergabung dengan forum remaja yang ada di PKBI Lampung yaitu Lampung Youth Forum. Banyak sekali yang kudapatkan dari hari pertama aku bergabung dengan PKBI Lampung. Mulai dari pengetahuan, kemampuan-kemampuan yang tidak kudapatkan sebelumnya di sekolah, dan kesempatan ntuk belajar bersama dengan teman-teman dari daerah lain. Di waktu yang tidak sebentar ini, PKBI Lampung sudah memberikanku banyak sekali kemudahan yang aku pribadi sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini.

Aku mendapatkan banyak pembelajaran dari setiap kegiatan positif yang dilakukan PKBI Lampung. Berkat PKBI Lampung, aku jadi mampu menentukan dan memutuskan sendiri kehidupan seksual ku sebagai remaja yang bertanggung jawab. Sebagai remaja juga aku memiliki harapan untuk mampu menyuarakan apa yang ingin disuarakan oleh remaja tentang isu-isu HKSR yang tidak memiliki kesempatan ini.  Atau setidaknya mampu mengedukasi mereka untuk sama-sama bersuara memperjuangkan hak-hak remaja. Tulisan ini juga kubuat sebagai apresiaku kepada PKBI Lampung yang sudah memberikan kesempatan dari hari pertama sampai dengan saat ini. Terimakasih PKBI Lampung!

 

Cerita Upik Nur Hazizah ( CD Bethesda)

Hai…Namaku Upik Nur Hazizah, umur 22 tahun, dari Leadership Community of Djogja (CD Bethesda), Yogyakarta

Aku pertama kali tau LCD waktu SMA, kebetulan LCD beberapa kali melakukan sosialisasi di SMA ku. Dan yang aku tau LCD ini sekedar bergerak di isu kesehatan reproduksi dan HIV & AIDS. Terus aku mulai tertarik dan sering kepoin fanpage LCD dan tanya-tanya soal LCD ke kakak kelas yang merupakan anggota disitu. Setelah banyak tanya dan bersamaan ada penerimaan anggota baru, akhirnya aku daftar untuk bergabung. Setelah bergabung aku juga mulai tau CD Bethesda sebagai lembaga yang mendampingi LCD, jadi LCD sebagai mitra remaja CD Bethesda.

Benefit    : tentu saja aku sebagai anggota mendapatkan banyak manfaat semenjak bergabung dengaan LCD (CD Bethesda). Disitu anggota diberikan fasilitas dan kapasitas berupa pelatihan, diskusi dan rekreasi. Aku sendiri jadi lebih tau mengenai HKSR dan pentingnya partisipasi remaja untuk memberikan informasi ke teman-teman mengenai HKSR. Sebelumnya aku gak tau kalau stigma masyarakat mengenai ODHA & OHIDA , serta semua yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi masih begitu kaku, termasuk aku sendiri yang ternyata masih bisa dibilang buta akan isu-isu tersebut.  Jadi melalui LCD yang dikapasitasi CD Bethesda aku belajar bagaimana cara pengorganisasian, teamwork, public speaking, kepekaan terhadap isu remaja dan HKSR di lingkungan kita serta relasi yang luas. Salah satu manfaat yang sekarang aku rasakan adalah aku bisa bertemu orang-orang hebat yang sangat inspiratif dari teman-teman tim dan juga ODHA-OHIDA. Selain itu aku bisa berbagi pemahaman dengan orang-orang sekitarku yang masih minim ilmu dan mempunyai stigma yang tidak tepat mengenai isu-isu tersebut. Dan tentunya aku berkesempatan bertemu teman-teman dari anggota ASV yang lagi-lagi memberikan pengalaman serta manfaat lain untukku dan perkembangan LCD ke depannya.

 

Cerita  Tanya ( PERTOPAN)

Nama saya Tanya,pada saat ini saya berumur 29 tahun. Saya berasal dari kota Pontianak di provinsi kalimatan barat. Organisasi saya adalah Persatuan Tomboy Pontianak ( Pertopan),organisasi Pertopan berada di daerah kota Pontianak. Saya mengetahui Organisasi Pertopan Dari teman saya Virginia yang juga anggota Pertopan yang sekarang Menjadi Wakil Ketua Organisasi Pertopan dan Pelaksana kegiatan Program di Pertopan.

Sebelum saya bergabung di Pertopan,saya adalah seorang Heteroseksual  yang homophobia. Saya Membayangkan ketika saya didekat seorang lesbian saya akan di peluk atau di cium bahkan lebih parahnya lagi di perkosa. Sampai ketika saya bertemu dengan Virginia dan Zoya.  Mereka dari kasat mata saja terlihat tomboy seperti seorang Lesbian dan saya sangat takut. Tapi teman akrab saya Dewi mengatakan tidak apa kita beteman,memang ada apa dengan mereka,kita ajak mereka karoke lumayan buat patungan bayarnya. Kami sering ketemu,makan bareng,karoke,dan saling berkunjung ke rumah masing masing. Seiring waktu saya semakin mengenal mereka. Ternyata mereka adalah orang yang baik hati,hidup sehat,rajin ibadah,dan mereka sangat baik penurut tidak pernah membantah ketika orang tua mereka sedang marah. Saya merasa diri saya yang normal ternyata tidak lebih baik dari mereka. Banyak yang harus saya evaluasi dan perbaiki di diri saya sendiri.

Suatu hari saya di ajak kerumah kak Lina yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua Pertopan. Kak Lina adalah seorang janda. Dia mempunyai 5 orang anak,ada yang sudah menikah dan mempunyai anak dan ada yang masih kecil. Kak Lina mempunyai Pasangan seorang Priawan yang bekerja menjadi seorang KASI di salah satu perusahan besar. Saya semakin simpatik,ternyata Priawan ini sama seperti laki – laki pada umumnya yang menafkahi pasangan dan anak anak mereka bahkan mungkin lebih baik. Ketua Pertopan adalah seorang Priawan yang bernama Perdi,beliau mempunyai pencucian motor,helm,dan karpet. Yah benar saya semakin simpatik dan semakin penasaran untuk lebih mengenal apa saja yang di lakukan oleh organisasi Pertopan.

Pertopan bergerak di isu HIV dan AIDS, yang berjejaring dengan Lembaga PKBI Pontianak,KPA kota Pontianak,KPA Provinsi Pontianak,Dinas Sosial Pontianak,KOMNAS perempuan,FAMM,LBH Pontianak,dan Lembaga Community Empowerment (CE) .  Di Nasional Pertopan berjejaring dengan Ardhanary Institute. Ardhanary Institute sering mengundang Pertopan dalam kegiatan capacity Building. Dengan seringnya Ardhanary Institute menjadikan Pertopan sebagai peserta di kegiatan kegiatan yang di lakukan oleh Ardhanary Institute.  Pertopan sekarang sudah bisa memfasilitasi kegiatan Capacity Building untuk Teman Teman komunitas. Dan pada saat pertopan melakukan kegiatan memperingati hari AIDS se dunia pada tanggal 1 desember 2016  di hadiri oleh wakil walikota Pontianak.

Banyak manfaat yang telah saya dapatkan semenjak kenal dan bergabung di Organisasi Pertopan. Wawasan saya semakin luas,lebih bijaksana ketika di hadapkan dalam salah satu situasi,saya memiliki banyak teman dan relasi di Pontianak dan kota kota lainnya,saya bisa mengadvokasi teman teman komunitas yang terkena masalah seperti stigma dan diskriminasi,saya juga bisa memberikan informasi Layanan layanan yang mereka butuhkan. Saat ini saya di Percayakan Menjadi asisten Bendahara Pertopan di Pelaporan keuangannya, dan masih banyak lagi manfaat yang saya dapatkan. Saat ini saya di Percayakan Menjadi asisten Bendahara Pertopan di Pelaporan keuangannya.

 

 

.