Get Up Speak Out (GUSO) 2018: Akselerasi program HKSR menuju dampak yang bermakna di masyarakat

Get Up Speak Out (GUSO) yang telah dijalankan oleh aliansi satu visi sejak tahun 2016 kali ini telah memasuki pertengahan tahun implementasi di tahun 2018 yang menjadi tahun puncak dan telah memanen hasil – hasil yang telah dikerjakan selama 2 tahun sebelumnya. Adapun hasil – hasil kerja yang telah dilaksanakan meliputi penguatan implementasi partisipasi remaja yang bermakna di setiap lembaga pelaksana GUSO dan terbangunnya gerakan remaja di daerah masing-masing didukung oleh temuan riset operasional MYP (Meaningful Youth Participation).

Terkait dengan implementasi pendidikan seksual yang komprehensif, lembaga pelaksana program GUSO telah melakukan penguatan kapasitas bagi para pendidik, memberikan pendidikan seksualitas komprehensif baik di lingkup sekolah maupun luar sekolah, dan melaksanakan pendekatan sekolah menyeluruh. Di sisi lain, lembaga pelaksana program GUSO juga telah membangun relasi dan sistem rujukan dengan penyedia layanan kesehatan lokal, mengembangkan panduan penilaian layanan ramah remaja untuk Puskesmas, serta memberikan layanan secara langsung melalui klinik masing-masing. Dalam mewujudkan lingkungan yang kondusif, kelompok kerja atau dewan penasihat lokal telah terbentuk di hampir seluruh wilayah intervensi dalam rangka memfasilitasi pelaksanaan program terkait advokasi untuk keberlanjutan program. Berbagai kegiatan peningkatan kesadaran kepada masyarakat umum juga dilakukan, baik secara online maupun offline.

Namun demikian, selain keberhasilan program, hasil studi performa menunjukkan banyak hal yang dapat diperkuat untuk mencapai target maupun menjamin kualitas dan keberlanjutan program. Untuk itu, maka dalam pertemuan validasi tengah program GUSO, adaptasi teori perubahan GUSO telah disepakati beserta strategi-strategi prioritas untuk dilaksanakan pada 2019-2020. Mempertimbangkan situasi perkembangan program yang telah disebutkan di atas dan mengingat proses perencanaan program untuk tahun 2019-2020, maka telah dilakukan pertemuan peninjauan dan perencanaan program GUSO untuk tahun 2019-2020 yang melibatkan semua lembaga pelaksana program GUSO di Indonesia.

Hasilnya, kesepakatan untuk melakukan akselerasi dalam memberikan dampak yang lebih bermakna pada masyarakat menjadi poin penting dalam perencanaan program kerja selama 2 tahun kedepan. Dalam memperkuat peran remaja sebagai aktor untuk kegiatan advokasi, maka akan diperkuat youth champion di masing – masing daerah untuk terlibat dalam kegiatan advokasi di tingkat daerah dan nasional. Pendidikan seksualitas yang komprehensif tidak hanya diberikan pada siswa SMP, namun juga pada remaja luar sekolah dengan modul yang telah dimiliki oleh ASV, serta remaja tunagrahita dimana kementerian pendidikan dan kebudayaan RI terlibat langsung dalam memberikan pendampingan di sekolah wilayah intervensi GUSO. Berkaitan dengan penyediaan layanan KSR pada remaja, layanan akan didekatkan pada remaja di sekolah melalui integrasi di sistem UKS dan posyandu remaja untuk remaja diluar sekolah. Poin ini juga menjadi strategi dalam memperkuat pendekatan multikomponen, dimana remaja yang mendapatkan pendidikan juga dapat mengakses layanan KSR yang ramah remaja.

Dalam memastikan kualitas layanan KSR yang diberikan pada remaja, implementasi social accountability menjadi salah satu strategi yang juga penting untuk dihighlight. Melibatkan masyarakat termasuk remaja sebagai sasaran utama penerima manfaat layanan dalam menilai dan memberikan masukan terkait layanan yang diberikan. Sehingga diharapkan program yang dibuat benar – benar menjawab kebutuhan lapangan dan mewujudkan layanan yang ramah remaja.

Kemudian, dalam memastikan program GUSO berkelanjutan di masing – masing wilayah intervensi, maka dalam 2 tahun kedepan akan lebih banyak melakukan advokasi intensif pada pemerintah daerah, pemegang kebijakan, termasuk dalam melakukan advokasi anggaran. Kampanye kreatif baik offline maupun online juga akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pemenuhan HKSR.

Di sisi lain, dalam mencapai kualitas program yang diharapkan maka aliansi satu visi tetap akan memberikan penguatan pada anggota aliansi itu sendiri. Memaksimalkan potensi setiap lembaga dalam memberikan intervensi pada masyarakat dan saling bekerja sama satu sama lainnya sehingga dapat lebih memperkuat gerakan pemenuhan HKSR di Indonesia. Linking and learning menjadi salah satu strategi dalam penguatan anggota aliansi, dimana diberikan kesempatan anggota yang memiliki ekspertis tertentu untuk saling menguatkan anggota aliansi. Belajar dari best practice di daerah diharapkan juga dapat memaksimalkan kualitas luaran implementasi program HKSR di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *