Training Holistic Safety and Security , Sabtu  – Jumat , 1 – 6 Juli 2018

“Fokus ke Strategi bukan ke Tools”

 by Adhityas Putri Utami

 

Ini adalah pengalaman menarik saya ikut acara dari RHRN. Iya RHRN, Right Here Right Now di Indonesia yang melibatkan 13 organisasi dengan isu-isu terkait pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan seksual, gender dan hak asasi manusia di Indonesia. Platform ini terdiri dari pusat-pusat penelitian, organisasi-organisasi yang dipimpin oleh pemuda, aliansi strategis, organisasi berbasis agama, para penyedia layanan dan wadah-wadah pemikir.

Organisasi dalam platform telah bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelajar, guru, orang tua, orang dengan HIV & AIDS, pekerja seks, remaja disabilitas, kelompok-kelompok berbasis keagamaan, aktivis dan jurnalis, pemimpin masyarakat, kelompok marjinal dan minoritas, akademisi hingga badan lokal maupun nasional. Bukan hanya itu saja, tetapi beberapa organisasi juga menangani isu-isu sensitif, pengurangan angka perkawinan anak, sunat wanita, aborsi aman, akses setara untuk kontrasepsi, LGBT dan pendidikan komprehensif seksualitas.

Karena berada pada arena sensitif terkait isu yang selama ini kerap dijadikan permasalahan dan penolakan dari  pihak yang bersebrangan sehingga potensi ancaman dan presikusi sangat mungkin terjadi melihat perkembangan situasi dan isu yang akan memanas. Yang menjadi perhatian khusus adalah bagaimana meningkatkan keamanan dan keselamatan Human Rights Defenders ( HRD) dan organisasi yang bekerja didalam platform. Ketika organisasi anggota  memiliki sistem keamanan maka mereka dapat memetakan startegi untuk meminimalisir resiko keamanan  dalam menjalankan kerja kerja platform kedepan. Training inilah yang akan membuat para anggota platform untuk mendapatkan strategi keamaan itu.

Taining ini diadakan dari hari Sabtu-Jumat tanggal 1-6 Juli 2018 di Hotel Royal Bogor dengan fasilitator yang menurut saya sangat berbeda dan saya yakin acara juga di kemas dengan berbeda dan pasti menarik dihadiri oleh beberapa anggota platform yang beberapa baru saya temui saat training ini.

Berbagai materi, pelajaran bahkan pengalaman baru saya temui dalam training ini terutama dalam meningkatkan keamanan. Berangkat dari keamanan untuk account pribadi dulu dari media sosial pastinya yang dekat dengan kita baru bagaimana belajar untuk sistem keamanan organisasi. Hal yang selalu dan akan saya ingat dalam training iniadalah “Fokus ke strategi bukan tools” saya harus memperhatikan lalu belajar bukan mengetahui tools yang diperlukan. Sebelum melalukan digital security, langkah pertama yang dilakukan adalah pastikan perangkat kita bersih  mulai dari handphone maupun laptop. Gimana cara bersihinnya? Pake antivirus dong pastinya.

Hal menarik lagi bagi saya yang didapatkan adalah mendapatkan dan belajar mengenai aplikasi cara membuat password, kita selalu membuat password yang selalu dekat dengan diri kita mungkin tanggal lahir, tanggal jadian, nama si mantan atau apapun itu tapi aplikasi ini bisa membuat password untuk kita yang tidak akan oranglain tau, tapi ya gitu sih, panjang banget dan bahkan saya yakin kalian akan lupa password yang akan dibuat. Nama aplikasinya adalah  KeePassXC. Pelajaran lain yang akan saya terapkan adalah “ganti password sesering mungkin”.

Di hari kedua saya lebih belajar mengenai browser, ternyata dalam browser sakita juga harus punya keamanan loh apalagi buat kalian yang suka menyimpan password di browsernya Hal- hal yang perlu diperhatikan dan di gunakaan saat ini : https everywhere, privacy badger, duckduckgo. Oh iya hal yang sering baik kita temui ketika ke daerah terpencil terus  tidak ada sinyal nah ternyata setiap tower provider saling bekerja sama, jadi ketika di suatu daerah tower terdekat itu telkomsel tapi kita xl, sinyal kita akan tertangkap tower telkomsel lalu dihubungkan untuk menyampaikan pesan yang kita kirimkan lalu saya juga diajarkan enskripsi di handphone tapi hanya dibeberapa handphone aja yang bisa.

Di hari selanjutnya saya mencoba mengirimkan email ke orang dengan dilampirkan enskripsinya. Jadi bisa kirim email tanpa diketahui karena sudah terenskripsi. Lalu menggunakan aplikasi veracrip untuk membuat kontainer file yang bisa menyimpan data rahasia. Kalian pernah tau online gbv? Seperti cyber stalking, doxing, harassment/trolling, identity theft/impersonification, child pornography, intimidation/blackmail/sextortion, account compromise, outing, hate speech, honey trap, “revenge porn” yang masih menjadi perdebatan. Hal yang menjadi tantangan kita dalam ahl kekerasan berbasis online adalah tidak ada hukum atau regulasi yang mengatur, tidak ada perlindungan bagi korban., minim aturan lalu tidak dianggap sebagai masalah apalagi kejahatan, dampaknya tidak nampak (penyebaran foto/video kroban yang merupakan victimisasi korban namun dampaknya sering dianggap tidak nampak jelas), sulit untuk melakukan assessment (contoh : ancaman kekerasan fisik serorti perkosaan atau pembunuhan sulit diidentifikasi apakah hal itu merupakan ancaman serius atau tidak) dan terakhir adalah revenge porn sering dilihat atau diperlakukan sebagai consensual sex.

Selain tantangan itu kita juga harus punya strategi lain misalnya mendokumentasikan setiap ancaman sebagai bukti, report atau block, abaikan dan carry on, lalu kita harus bangun jejaring agar ada yang namanya solidaritas dimana bisa juga hal itu menjadi bantuan selanjutnya mempelajari privacy setting setiap platform media social dan photo sharing apps yang digunakan, dan hal simpel tetapi kita sering sepelakan adalah jangan pernah memposting informasi/data pribadi yang sensitif di internet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *