Penerimaan Pendidikan Seksual di Indonesia

   Membahas pendidikan seksualitas (seks education) kita tahu pendidikan Indonesia sudah menerapkan hal itu. Pemerintah juga sudah banyak memberlakukan pendidikan ini di semua bidang pendidikan. Akan tetapi dalam hal penerimaan yang di dapat siswa dan orang tua murid belum semuanya bisa menerima pendidikan ini dikarenakan budaya Indonesia yang masih menganggap seks itu tabu.

Padahal dalam pendidikan di Indonesia sudah menerapkan pendidikan ini dikatakan “Materi pendidikan kesehatan reproduksi sudah ada di K-13. Sudah lengkap semua, tetapi maunya sebagian masyarakat dieksplisitkan melalui pendidikan seks.” kata Hamid Muhammad, Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, saat dihubungi CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Selain itu dalam situs kumpulan buku sekolah, reproduksi manusia ternyata baru mulai dibahas satu kali di mata pelajaran Biologi, tepatnya bagi siswa/i kelas 9 atau tahun akhir Sekolah Menengah Pertama.

Untuk siswa/i Sekolah Menengah Atas, para pelajar itu mengakui ada materi menyinggung pendidikan seksual, meski konteksnya memang tetap lebih berat ke anatomi organ reproduksi. Separuh dari bab tersebut sibuk membahas anatomi alat reproduksi manusia baik laki-laki maupun perempuan dengan bahasa ilmiah yang rumit.

Selain itu banyak faktor pendidikan seksual di Indonesia masih sulit diterima. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa sebagian besar orang tua mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan anak-anaknya yang berkaitan dengan seks. Kesulitan orang tua dalam menjawab pertanyaan tersebut cenderung dialihkan ke hal-hal yang kurang rasional sehingga anak semakin gencar mengejar dengan pertanyaan yang lebih rumit. Itulah yang membuat sulitnya pendidikan seks di Indonesia berjalan secara baik dan benar

Indonesia masih kurang dalam pendidikan seksual yang dapat dibandingkan dengan negara negara tetangga seperti contoh: 

  1. Selandia Baru

Seksualitas merupakan salah satu dari tujuh area dalam kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di Selandia Baru. Pemerintah mewajibkan hal tersebut untuk sekolah dasar hingga anak berusia 10 tahun. Metode ini telah diterapkan Selandia Baru sejak 1999. Ketika dirasa masih kurang, pemerintah Selandia Baru berencana untuk mengembangkan program pendidikan seks di negaranya.

  1. Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) memiliki program pendidikan seks yang lebih bervariasi di berbagai sekolah dan wilayah. Menurut Guttmacher Institute, hanya setengah negara bagian yang memasukkan pendidikan mengenai HIV dalam program mereka.
Secara keseluruhan, Planned Parenthood melaporkan pada rentang waktu 2011-2013, sebanyak 43 persen perempuan dewasa dan 57 persen pria dewasa tidak menerima informasi tentang kontrol kelahiran sebelum mereka melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya.

Dari contoh tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Indonesia masih kurang bervariatif dari segi pendidikan seks khususnya disistem akademisnya serta pembelajaran untuk orang tuanya.

Ada beberapa bagian yang perlu dikerjakan dan ini menjadi tanggung jawab bersama. Misalkan bagi pemerintah, orang dewasa, dan bagi organisasi-organisasi terkait. Sementara itu, orangtua harus mampu membimbing, menuntun, serta memberikan pemahaman yang baik tentang perkembangan seksualitas pada remaja.

Pengajaran mengenai kesehatan alat reproduksi dan seksualitas bukanlah hal yang tabu. Karena komunikasi akan hal ini sangatlah penting dikarenakan ini bukan hal main main karena menyangkut perkembangan kedepan anak tetang hal ini.

Selain itu ada beberapa tayangan atau film yang menyangkut seks education. Contohnya adalah film “dua garis biru”. Dalam Film Dua Garis Biru menceritakan minimnya pendidikan seks bagi remaja Indonesia saat ini. Diceritakan dalam film tersebut, Bima dan Dara, dua remaja yang masih duduk di Sekolah Menegah Atas (SMA) dihadapkan pada proses penerimaan diri kalau keduanya akan menjadi orangtua di usianya yang masih terlalu dini setelah melakukan hubungan seks di luar pernikahan.

Kutipan percakapan lain antara Bima dan ibunya dalam film ini juga cukup menggelitik, sekaligus ironi, memberikan gambaran pendidikan seks yang sangat jarang sekali dibicarakan dalam keluarga.

Selain itu ada brand alat kontrasepsi melalui salah satu merk kondomnya Durex baru-baru ini mengadakan sebuah survei online yang melibatkan JAKPAT (Jajak Pendapat) di lima kota besar yakni Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan Jogja dengan mengambil total 1.500 responden, mencakup berbagai macam status sosial, berjenis kelamin seimbang antara pria dan wanita.

Respondennya dibedakan menjadi tiga kategori yakni remaja hingga dewasa pada usia 16-25 tahun, orangtua pada usia 30-50 tahun dan pasangan yang baru menikah pada usia 20 hingga 30 tahun. Dari survei ini ditemukan, 84% kelompok remaja mengakui mengalami masa pubertas pertama kali di usia 12-17 tahun, namun pendidikan seksual baru diperkenalkan pada usia 14-18 tahun.

Sayangnya, topik mengenai pendidikan seks dan kesehatan reproduksi ini kebanyakan tidak dibicarakan remaja bersama dengan orangtua, karena persentase terbesar menunjukkan remaja lebih senang berbicara mengenai topik tersebut dengan teman sebayanya.

Sebanyak 33% dari remaja ini pun mengaku mereka mendapatkan sumber yang kredibel dari praktisi kesehatan atau dokter dibandingkan dengan orangtuanya sendiri. Sebanyak 61% di antaranya mengakui mereka takut dihakimi oleh orangtua jika bertanya tentang hal yang berhubungan dengan topik yang dianggap sensitif tersebut.

Sementara anaknya tidak mau membicarakan mengenai topik seks, takut dihakimi orangtuanya, orangtua pun galau 59% mengatakan tabu untuk berdiskusi dengan anaknya mengenai kesehatan reproduksi, sedangkan 63 persen khawatir kalau memberitahu seolah-olah orangtuanya memperbolehkan hubungan seksual pra nikah. Inilah problem kita. Ini wajah bagaimana edukasi seksual di Indonesia,” ujar dr. Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser Indonesia saat mengemukakan hasil survei di The Energy Building, Jakarta Selatan pada Kamis (21/11/2019).

Dengan demikian penerimaan pendidikan seks di Indonesia masih bisa dianggap kurang dan sebaiknya dalam pendidikan seks di Indonesia orang tua ikut serta dalam menjalankan pendidikan seks ini. Karena menyangkut hubungan 2 arah dari orang tua serta anak untuk meny ukseskan program pendidikan seks. Selain itu, negara Indonesia bisa maju ketika pendidikan seks dianggap sudah tidak tabu lagi yang mana pendidikan ini sangat penting untuk kemajuan generasi selanjutnya.

Penulis: Trisna|Editor: Pradnyawidari Dharmika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *