Ruang Berbagi EP. 35: Membedah Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi Remaja

Ruang Berbagi Ep. 35 (sumber: Aliansi Satu Visi)

Ruang berbagi merupakan diskusi rutin yang diadakan oleh Aliansi Satu Visi (ASV). Diskusi kali ini membahas mengenai pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual untuk remaja. ASV menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya yaitu Dr. Praptono, M.Ed (Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah  dan Khusus Kemendikbud), drg.Wara Pertiwi Osing MA (Kasubit Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja, Kemenkes), Amala Rahma (Country Representative Rutgers WPF Indonesia),  Alisa Wahid (Koordinator Jaringan GUSDURian), I Gusti Agung Ayu B (Guru Pengajar Modul Kesehatan Reproduksi dan Seksual), dan Risna Tri Hapsari (Siswi Penerima Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksual). 

Kegiatan diskusi menggunakan kanal youtube milik ASV dan dimoderatori oleh Desti Murdijana yang merupakan Dewan Penasehat ASV/Project Manager JASS-SEA. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 24 September 2020 pukul 16.00-18.00 WIB.

Latar belakang dilakukannya penyusunan dan pengembangan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual bagi remaja adalah karena masih banyak orang tua maupun guru yang menganggap tabu. Sehingga muncul pemikiran “Nanti ada saatnya untuk mengetahui”. Apabila anak tidak dibimbing oleh orang tua atau guru atau orang yang kompeten, anak akan kehilangan arah karena saat ini era teknologi semakin maju dan informasi yang simpang siur dapat membahayakan. 

Selain itu, anak perlu dibekali pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual agar anak dapat melindungi dirinya sendiri dari bahaya dan dapat memberikan alert jika ada orang lain yang menyentuhnya. Maka, muncul  motto “Tubuhku, Milikku”. Bila terjadi sentuhan, seperti sentuhan aman, sentuhan ini  terjadi dalam kurun waktu dua detik dan daerah mana yang sentuh. Oleh karena itu, pemerintah terutama kemendikbud, kemenkes, dan kemenag berkolaborasi untuk menyusun dan mengembangkan modul ini. 

Selain peran dari pemerintah, peran warga sipil seperti organisasi, guru, dan murid juga turut dilibatkan untuk menyempurnakannya. Karena kelompok sasarannya 80% remaja yang berada di lingkup sekolah, maka guru sebagai insan pengajar dapat memberikan informasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi dan seksual bagi siswa/i. 

Modul kesehatan reproduksi dan seksual ini disesuaikan dengan proses tumbuh dan kembang anak. Setiap jenjang pendidikan, materi yang dibahas akan berbeda. Jenjang pendidikan sekolah dasar akan membahas pengenalan tubuh. Pada sekolah menengah pertama dikenalkan dengan materi pubertas dan sekolah menengah atas dikenalkan materi pengenalan pernikahan. Pendidikan kesehatan reproduksi ini dalam implementasinya akan bekerjasama dengan guru Biologi, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan Bimbingan Konseling sebab tidak mungkin ditambahkannya mata pelajaran maka penguatannya terdapat di kompetensi dan sumber daya manusianya. 

Materi ini juga tidak luput dari aspek agama, seperti yang disampaikan oleh Alisa Wahid, pada bagian Program Keluarga Sakinah yang dilakukan kemenag terdapat bimbingan remaja. Bimbingan remaja ini untuk mempersiapkan konsep diri remaja yang sehat, membentuk harapan, dan caranya menghadapi tantangan yang dihadapinya.

Panel diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab dan closing statement dari para narasumber. Harapan dari diskusi ini adalah remaja harus mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang komprehensif bagi drg.Wara Pertiwi Osing sendiri agar remaja menjadi manusia dewasa yang sehat dan bersikap positif.

Penulis : Trisna Abigail

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *