Stand Up Comedy Academy ASV

Peserta Stand Up Comedy ASV (sumber: Aliansi Satu Visi)

Menjadi penyuluh Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) adalah hal yang sangat menantang namun penting dilakukan pada masa kini. Selain menjadi pengalaman baru dan menemukan banyak teman, mengedukasi remaja terkait hal ini pun acap kali mendapat stigma negatif dari masyarakat. Mendapat label “mengajarkan hal porno” yang tidak jarang dirasakan oleh sebagian besar para penyuluh HKSR di Indonesia, dikarenakan pandangan masyarakat terhadap HKSR adalah hal yang tabu dan tidak layak diperbincangkan. 

Inilah yang mendasari Aliansi Satu Visi (ASV) mengadakan Workshop Stand Up Comedy Academy untuk memfasilitasi para penyuluh HKSR untuk mengkampanyekan materi HKSR dengan ekspresi yang berbeda dan menarik sehingga informasi yang diberikan terasa menyenangkan dan tidak tabu. Workshop ini diadakan melalui platform Zoom sebanyak 6 sesi di Bulan Agustus dan September. Hal ini mendapat sambutan yang luar biasa, terbukti dengan terpilihnya 20 peserta dari berbagai lembaga mitra ASV yang mengkampanyekan HKSR sangat antusias mengikuti Workshop ini. 

“Proses pelatihan ini sangat memberdayakan peserta, tidak hanya mempelajari tentang stand up comedy, peserta pelatihan juga menggali isu HKSR yang dikaitkan dengan pengalaman dan nilai hidup pribadi.” ungkap Mbak Sakdiyah Ma’ruf yang menjadi narasumber di pelatihan stand up comedy. Beliau adalah finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV pertama pada tahun 2011 dan terdaftar sebagai salah satu 100 wanita inspirartif dunia versi BBC. Dalam perjalanan menjadi seorang komedian, ada yang menjadikan Mbak Sakdiyah unik, beliau tak segan membawa tema-tema sensitif, misalkan konservatisme Arab dan diskriminasi terhadap perempuan.

Nino, salah satu peserta workshop berpendapat bahwa ini adalah bentuk advokasi yang menarik dan menjadi hal baru untuknya. “Narasumbernya sangat kompeten dan asik, materinya ringan tapi mengena. Workshop ini mengubah perspektif saya terkait cara menyampaikan aspirasi (Advokasi) melalui stand up comedy”. 

Perjalanan menjadi penyuluh HKSR pun tidak berlalu dengan mulus, terkadang peserta harus berpikir keras ketika menentukan tema untuk kelompok sasaran, menggali isu yang sesuai dengan kebutuhan,  hingga pemilihan diksi yang tepat, hal ini harus dipertimbangkan beberapa kali hingga menjadi naskah yang utuh. Mbak Sakdiyah, sebagai sosok inspiratif bagi para peserta, selalu terbuka dalam menjawab setiap pertanyaan dan memberikan banyak masukan di setiap sesi konsultasi. 

Mbak Sakdiyah menjelaskan beberapa tantangan selama proses adalah mengupayakan sumber pembelajaran berbahasa inggris yang menjadi rujukan untuk mengenalkan stand up comedy sebagai media untuk menyuarakan isu sosial dapat dengan mudah dipahami peserta. Tantangan lainnya adalah menggali kreatifitas peserta dalam mengekplorasi diri sendiri sebagai topik pembahasan dan menjaga kepercayaan diri peserta selama melalui proses yang sulit.

“Dulu aku berpikir berulang kali kalau membawakan materi kespro tertentu, tapi workshop ini memudahkan aku untuk mengemas materi yang sulit agar terdengar ringan dan dapat diterima. Stand Up Comedy menjadi cara terbaik dalam merefleksikan sesuatu”, inilah perubahan yang dialami oleh salah satu penyuluh HKSR Kisara PKBI Bali, yang akrab disapa Meisa.

Ya, inilah salah satu kesempatan luar biasa untuk para penyuluh HKSR agar mampu membawakan materi  dan menyampaikan aspirasi tanpa menanggung sanksi sosial berupa label negatif karena dianggap mensosialisasikan hal yang tabu, seperti yang diungkap oleh Adhityas Putri Utami sebagai youth empowerment officer ASV, “Harapannya, para remaja ASV yang merupakan penerima manfaat atau fasilitator sebaya bukan hanya mampu melucu dan punya konten HKSR, namun juga mampu mengkampanyekan isu HKSR dengan metode yang menyenangkan”.

Harapan yang juga diungkapkan Mbak Sakdiyah kepada para peserta agar pelatihan ini sebagai titik awal untuk melihat permasalahan secara kritis dan dapat mengekspresikannya dengan cara yang kreatif serta menjadikan segala proses belajar untuk diaplikasikan ketika menjadi pembicara, penyuluh, dan kegiatan lainnya.

Penulis: Zahra

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *