PKBI DKI JAKARTA: PFA provider “Tangguh dan Bersahabat”

Dokumentasi kegiatan PFA (sumber: PKBI DKI Jakarta)

Keseharian menjadi seorang penyuluh, pendamping sebaya, konselor, dan tenaga medis yang selalu bersinggungan dengan situasi dan masalah yang dihadapi orang lain, pastinya membutuhkan kondisi psikologis yang stabil dan kemampuan mengelola masalah agar pekerjaan yang dilakukan dapat optimal dan membantu penerima manfaat dengan baik. Hal inilah yang mendasari PKBI DKI Jakarta merasa pentingnya untuk meningkatkan kapasitas bagi pemberi layanan, sehingga mengajak Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia untuk mengikuti Workshop Psychological First Aid (PFA) untuk para staf dan relawan. 

Kegiatan yang berlangsung pada 1-3 Oktober 2020 ini diikuti oleh 55 peserta yang terdiri dari berbagai lembaga yaitu, PKBI DKI Jakarta, PMI Kota Jakarta Timur, Ardhanary Institute, Yayasan Pelita Ilmu, Yayasan Pulih, PKBI Jawa Tengah, Rifka Anisa, PKBI DIY, PKBI Jawa Timur, PKBI Jambi, Cahaya Perempuan WCC, PKBI Lampung, PKBI Bali, dan Sekretariat ASV. Workshop PFA ini, dilakukan via zoom meeting selama kurang lebih 7 jam per hari.  Workshop ini diharapkan untuk meningkatkan pelayanan dan kapasitas terkait pengetahuan, teknik, dan cara memfasilitasi penyintas yang membutuhan PFA.

“Materinya dapat digunakan untuk melayani juga membantu sebanyak-banyaknya penyintas dan juga berguna untuk melatih orang yang akan turun ke lapangan. Semoga semakin banyak orang yang dapat melakukan PFA sehingga Indonesia dapat lebih sehat mental”, harapan yang disampaikan Mas Ewa sebagai salah satu narasumber pada Workshop PFA. Mas Ewa adalah bagian dari Divisi Layanan Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta Raya (Himpsi Jaya), bersama rekan-rekannya yaitu Mbak Wiene, Kak Ika, Mas Mukhtar, Kak Angga, Teh Dinda telah menjadi narasumber yang memiliki banyak pengalaman dan sangat menginspirasi. 

“Seru banget, tidak hanya materi tapi bisa langsung praktek juga”, kesan yang dirasakan Neno, relawan PKBI Daerah Jambi, sebagai salah satu peserta pun sangat positif ketika narasumber mengajak para peserta memerankan studi kasus yang telah dipersiapkan. Tentunya ini dimaksudkan agar peserta dapat terlatih dalam mengelola situasi psikologis personal, mampu mengenali dan membantu penyintas termasuk staf dan relawan organisasi yang memiliki kebutuhan mendapatkan bantuan psikologis. Setelah memerankan studi kasus, narasumber akan memberikan umpan balik dan saran. 

Walaupun Mas Ewa merasa kurang maksimal karena ada banyak teknik dan contoh yang seharusnya dapat dilakukan secara langsung, seperti posisi duduk, sentuhan, dan berbagai contoh lainnya, namun peserta dapat memperagakan teknik-teknik tersebut melalui contoh yang disampaikan oleh narasumber. Bahkan relawan asal Lembaga Rifka Annisa menjelaskan bahwa dirinya bisa langsung mempraktekkan teknik relaksasi. 

“Harapan kami sebagai penyelenggara, semoga Workshop ini dapat menjadi bekal untuk para peserta yang menjadi pemberi layanan PFA di lembaga masing-masing”, ungkap Ka Aisyah, sebagai Relawan PKBI DKI Jakarta. Hal ini juga disampaikan Rini, yang menjadi peserta dari PKBI DKI Jakarta bahwa kepercayaan dirinya meningkat setelah mengikut Workshop PFA ini dan berharap dapat menjadi pendengar yang lebih baik untuk penyintas. 

Penulis: Zahra

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *