Memperingati IDG, Aliansi Remaja Independen Mengajak Perempuan Menjaga Diri dari Cyber Harassment

Aliansi Remaja Independen (ARI) dalam rangkaian kegiatan untuk memperingati International Day of Girl, mengadakan talkshow atau diskusi secara daring bertajuk “Protect Yourself From Cyber Harassment (Yourself Matter)”. Acara ini bekerja sama dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia yang bergerak untuk memperjuangkan hak perempuan dan anak. Serta PerEMPUan, organisasi yang bergerak pada penanganan kasus pelecehan seksual di transportasi umum. Beserta Weminac sebagai media partner, pada Minggu (04/10) melalui live Instagram Aliansi Remaja Independen.

Kegiatan ini turut mengundang pembicara dari pendiri komunitas PerEMPUan yaitu Rika Rosvianti dan dimoderatori oleh Rahmi Yunita, bagian dari Walk Group (WG) Kesehatan ARI. Diskusi daring ini secara umum membahas mengenai kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan dan remaja. Kekerasan  seksual yang sering kali terjadi di ruang publik, kini ikut berpindah ke daring. Tidak jarang kekerasan seksual dialami oleh perempuan atau remaja melalui kolom komentar atau teks bernuansa seksual.

Sebelum membahas lebih jauh, Rika menjelaskan kembali pengertian kekerasan seksual karena masih banyak orang yang tidak tahu tentang kekerasan seksual di tahun 2020. “Kekerasan seksual berasal dari dua kata, kekerasan dan seksual. Kekerasan sendiri mengandung segala tindakan yang dilakukan tanpa persetujuan pihak lain dan hanya menguntungkan satu pihak. Seksual adalah aktivitas yang mengarah pada nuansa seks. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kekerasan seksual adalah segala  bentuk tindakan atau aktivitas bernuansa seks yang terjadi tanpa adanya persetujuan dari kedua pihak dan hanya menguntungkan satu pihak saja”. Menurut data LBH (Lembaga Bantuan Hukum)  APIK pada Maret 2020, disebutkan oleh Rika tercatat ada 97 kasus kekerasan seksual selama masa pandemi.  Kekerasan seksual secara online ini dapat dalam bentuk komentar, teks, atau gambar yang bernuansa seksual dan dipaksa.

Kekerasan seksual yang terjadi selama masa pandemi ini menimbulkan modus-modus baru melalui dating apps, pinjaman online, rapat online, dan penelitian/survey online berkedok mencari data. Pada kasus pinjaman online ini terjadi karena customer yang meminjam uang harus membayar hutangnya dengan video atau gambar bagian tubuhnya. Kejadian ini harus lebih diwaspadai bagi siapapun agar tidak menjadi korban selanjutnya.

Menurut Rika, terjadinya kekerasan seksual karena  dua faktor yaitu budaya patriarki dan tidak adanya pengajaran mengenai privacy (kemampuan individu dalam melindungi kehidupannya)dan consent (adanya persetujuan individu untuk terlibat dalam suatu aktivitas).  Pada budaya patriarki, laki-laki adalah sosok yang memiliki kuasa dan perempuan adalah objek yang tidak berdaya. Sehingga perempuan tidak memiliki otoritas akan tubuhnya. Berikutnya privacy & consent adalah hal yang tidak diajarkan pada anak sejak usia dini dan mengakibatkan anak tidak dapat memberikan batas pada orang lain untuk menyentuh bagian tubuhnya, mana tubuh yang public (tangan, kepala, dan kaki) dan tubuh yang privacy (bibir, dada, pantat, dan alat kelamin). Hal ini menjadikan anak tidak mendapatkan kesempatan untuk menyetujui atau tidak terhadap sentuhan di tubuhnya.  Data dari Komnas Perempuan tahun 2018, tercatat adanya 1.071 kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandung dan paman. Kejadian tersebut dapat dikurangi dengan pengajaran sejak dini pada anak baik laki-laki atau perempuan mengenai privacy & consent agar dapat mengurangi kasus kekerasan seksual.

Melalui diskusi ini, harapannya kekerasan seksual dapat dicegah cara termudah dengan saring sebelum sharing” karena segala sesuatu yang diunggah pada media sosial, tidak lagi dapat kita kendalikan. Apabila unggahan yang akan disebarkan tersebut menyebabkan rasa tidak nyaman atau malu, maka unggahan tersebut dapat mengandung data sensitif atau privacy. Selain pencegahan, kita juga dapat mencari pendampingan melalui #gerakbersama. Tagar tersebut berisi kumpulan organisasi (Rifka Annisa Women’s Crisis Center dan Sister in Danger) yang dapat membantu untuk menangani kasus kekerasan seksual atau kasus lainnya. Agar kita sebagai individu yang ingin membantu atau mengalami kasus kekerasan seksual dapat menemukan bantuan yang tepat.

Penulis : Trisna Abigail/Editor: Pradnyawidari Dharmika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *