Mempelajari Pendidikan Kesehatan dan Reproduksi yang Inklusif Bersama Aliansi Satu Visi

Aliansi Satu Visi kembali menyapa melalui program daring rutin “Ruang Berbagi”, kali ini episode 36 bertemakan “ Inklusivitas Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual bagi Remaja” ditayangkan pada Kamis, 1 Oktober 2020 jam 19.00 WIB melalui akun youtube Aliansi Satu Visi. Sebanyak lima orang narasumber pun hadir untuk berbagi pengalaman. Ada  Anggia Ayu Sebrina yang merupakan salah satu penyusun modul kesehatan reproduksi bagi remaja tunagrahita. Kemudian ada Surya Sahetapy yang merupakan aktivis gerakan tuli yang saat ini tengah melanjutkan studi di luar negeri, ada pula Bambang Sunaryo yang merupakan orang tua dari siswa tunagrahita yang telah mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi. Dan dua orang narasumber lainnya yaitu Narwati dan Rina  merupakan community organizer dalam pemberian pendidikan kesehatan reproduksi ke remaja di luar sekolah.

Ruang berbagi kali ini dipandu oleh Zahra Ulya yang merupakan Direktur PKBI Jawa Timur. Acara dimulai tepat pada pukul 19.00 WIB dengan penjelasan moderator sekilas mengenai Ruang Berbagi episode 36 yang merupakan episode spesial yang menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif untuk berbagi pengalaman, sekaligus rangkaian bincang daring tersebut merupakan rangkaian acara menuju acara puncak program Get Up Speak Out (GUSO) yakni pada akhir Oktober nanti. Ruang berbagi kali ini juga difasilitasi dengan penerjemah bahasa isyarat sehingga bisa memudahkan remaja tuli.

Acara dilanjutkan dengan memperkenalkan masing-masing narasumber dan berbagi pengalaman dari tiap narasumber selama 10 menit sembari diselingi beberapa pertanyaan dari moderator. Surya Sahetapy memulai sesi berbagi pengalaman melalui pengalamannya sebagai remaja tuli dimana kesulitan mengakses pendidikan kesehatan reproduksi saat di sekolah karena dianggap tabu, dimana hal ini sungguh aneh karena faktanya remaja disabilitas merupakan salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan seksual sehingga pendidikan kesehatan reproduksi sangat diperlukan. Namun sayangnya hingga kini akses pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja disabilitas sangat terbatas.

Surya pun berbagi cerita mengenai pengalamannya saat SD dimana justru sengaja dibatasi aksesnya dalam memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi karena masih dianggap tabu. Justru saat beliau bersekolah di SMP negeri reguler baru bisa mendapatkan akses terhadap pendidikan kesehatan reproduksi. Surya juga bercerita seputar kesulitan remaja tuli untuk mengakses video seputar kesehatan reproduksi karena jarang yang berisi teks dan terjemahan bahasa isyarat. Syukurnya setelah melanjutkan sekolah di Amerika yang memberikan akses lebih mudah bagi remaja tuli, Surya dapat mengakses informasi lebih banyak. Surya juga menambahkan bahwa ada hal unik di Amerika, dimana saat remaja akan mulai berkuliah mereka diwajibkan mengikuti kelas pendidikan kesehatan reproduksi.

Akibat dari keterbatasan akses informasi seputar kesehatan reproduksi bagi remaja disabilitas pun tercermin dari cerita pak Bambang yang memiliki anak remaja tunagrahita. Kondisi ini menyebabkan sang anak belum memiliki rasa malu meskipun sudah remaja sehingga setelah mandi kerap keluar tanpa busana maupun handuk. Pak Bambang pun melakukan pendekatan dan perlahan memberitahukan anak sembari memberikan contoh untuk memperkenalkan pendidikan kesehatan reproduksi seperti batasan tubuh yang boleh disentuh dan dilihat orang lain guna melindungi sang anak dari pelecehan. Bersyukurnya pak Bambang telah mendapatkan pelatihan kelas pola asuh bagi remaja disabilitas, sehingga pak Bambang mampu melakukan komunikasi efektif dengan anak dan paham metode terbaik dalam mengajarkan anak mengenai hal-hal sederhana.

Setelah berbagi pengalaman, narasumber pun diberikan kesempatan menjawab pertanyaan pada kolom komentar daring pada siaran langsung, namun karena waktu yang terbatas pertanyaan pun dibatasi hanya 1 pertanyaan per narasumber. Dan diakhir Ruang Berbagi setiap narasumber diberikan kesempatan pula memberikan closing statement. Pukul 21.00 WIB Ruang Berbagi pun ditutup setelah tiap narasumber memberikan pernyataan penutup bagi seluruh penonton, salah satunya dari Rina yang menyampaikan “Kita semua lahir melalui vagina, kecuali kalau keturunan Sung Gokong ya beda cerita. Kita juga punya alat kelamin dan dibawa kemana-mana pula. Tapi giliran dibahas malah tabu, ya kapan pada sadar pentingnya menjaga organ reproduksi? Jangan wajah aja yang dirawat, organ reproduksi kita juga perlu!”. Hingga saat ini, Ruang Berbagi episode 36 telah ditonton lebih dari 200 kali.

Penulis: RinRas/Editor: Pradnyawidari Dharmika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *