What We Don’t Talk About When We Talk About Sexuality

Poster acara “‘What We Don’t Talk About When We Talk About Sexuality” sumber: Aliansi Satu Visi

Siapa sangka Lokakarya Fotografi Terapeutik dalam kelompok atau yang lebih sering dikenal sebagai “Photovoice” yang difasilitasi oleh Aliansi Satu Visi (ASV) dan diikuti teman-teman Institut Hak Asasi Perempuan (IHAP) dan Pilar PKBI Jawa Tengah melahirkan hasil yang luar biasa.  

Fotografi terapeutik adalah teknik terapi dengan metode ekspresi kreatif melalui media fotografi. Setelah proses yang cukup panjang, sebelas anak muda berhasil menyuarakan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) melalui media foto. Tentunya hal ini tidak lepas dari asistensi fasilitator, Caron Toshiko, yang juga merupakan praktisi psikologi. Kak Caron berpesan bahwa semua orang dapat berkreasi dengan foto dan memanfaatkanya dengan bijak untuk bersuara.

“Kak Caron orangnya sabar, asik banget dan solutif”, begitulah salah satu pendapat peserta dari relawan IHAP, Marthilda Christin Finsae, yang akrab disapa Thilda. 

Dengan mengkombinasikan ilmu psikologi dan seni fotografi, Kak Caron sukses membuat para peserta dapat mengeksplorasi diri lebih jauh untuk bersuara tentang keresahan diri terkait HKSR yang masih sangat dianggap tabu. 

Bermula dari lokakarya dilaksanakan pada 29 Februari – 1 Maret 2020 di Kupang  untuk teman-teman IHAP dan 7 – 8 Maret 2020 di Semarang untuk teman-teman Pilar PKBI Jawa Tengah, selanjutnya dalam kurun waktu satu bulan, masing-masing peserta memotret dan dilanjutkan dengan asistensi satu persatu secara virtual bersama Kak Caron. 

“Asistensi ini seperti konseling untuk teman-teman mengeksplorasi dan mengekspresikan diri secara bebas serta mendapatkan pemahaman akan kegelisahan dan harapan yang ingin mereka sampaikan,” ujar Kak Caron.

Bertepatan dengan Hari Buku Foto Sedunia, Rabu, 14 Oktober 2020, 17.00 – 18.30 WIB, Gueari Galeri bersama Aliansi Satu Visi dan Pilar PKBI Jawa Tengah merilis buku ‘What We Don’t Talk About When We Talk About Sexuality’, kumpulan kisah visual akan hasrat, kegelisahan, harapan, dan pengalaman seksualitas yang dinarasikan oleh sebelas anak muda.  

“Bersahabat dengan diri sendiri dan proses interaksi dengan batin adalah hal penting dalam terapeutik sebagai upaya wawas diri”, hal ini disampaikan Kak Caron dalam sesi tersebut. Kak Caron juga menjelaskan bahwa memotret hal-hal yang menarik perhatian mereka sebenarnya turut melibatkan pengalaman, memori, dan pengetahuan mereka yang secara sadar atau tidak mencerminkan harapan dan kegelisahan diri.

“Dalam proses ini, saya menemukan banyak hal baru, awalnya gak ngeh soal fotografi, sampai akhirnya bisa menghasilkan karya yang dapat merefleksikan pesan yang ingin saya sampaikan melalui medium foto”. Doni, salah satu peserta juga menjelaskan proses panjang terlibat dalam lokakarya fotografi terapeutik ini. Berangkat dari pengalaman pribadi, Doni mewawancarai empat temannya untuk mendukung pesan yang ingin ia sampaikan. Bukan tanpa tantangan, Doni kerap kali melewati berbagai kesulitan, salah satunya membangun kepercayaan agar narasumber merasa nyaman dan aman untuk menceritakan pengalaman personalnya terkait masturbasi dan mimpi basah. 

Hal yang tidak kalah menariknya juga dirasakan oleh Rodja, remaja 18 tahun dari Semarang. Rodja merasa memiliki energi baru untuk memperjuangkan haknya sebagai remaja, terutama masalah yang terjadi di kehidupan pribadi dan lingkungan sekitarnya. “Banyak perubahan yang saya alami setelah mengikuti lokakarya ini, salah satunya saya dapat mengemas hal tabu menjadi sesuatu yang menarik untuk disampaikan kepada remaja”,  Rodja menjelaskan dengan antusias.

Ya, photovoice memang menjadi media advokasi yang cukup efektif dan menarik. Thilda berpendapat bahwa photovoice dapat memfasilitasi teman-teman yang belum menemukan tempat untuk bercerita dan menyampaikan keresahan yang dirasakan. “Karena photovoice ini membebaskan kita untuk memotret dan memilih foto, dan prosesnya dapat membantu  kita untuk lebih memahami diri dan merasa percaya diri. Prosesnya pun sangat natural dan organik.” 

Kak Caron sebagai fasilitator pun mengakui ia mendapat banyak  pembelajaran baru selama proses lokakarya ini. Harapannya, photovoice karya teman-teman IHAP dan Pilar PKBI Jawa Tengah dapat menjadi edukasi HKSR yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, isu yang tidak jarang berbenturan dengan adat budaya dan agama.

Penulis: Zahra

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *