Menikah Dini, Bahagia Atau Merana?

Di abad 21 di mana teknologi sudah semakin canggih , makin banyak pilihan karir yang dapat dipilih oleh generasi muda. Mulai dari atlet e-sport, youtuber, digital marketing, jualan daring dan banyak lainnya yang bisa dicoba lewat perkembangan teknologi dan internet. Banyak  pula keterampilan yang dapat ditingkatkan secara daring dan gratis, sehingga bisa mengisi waktu dengan lebih bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup nantinya. Beda hal nya dengan zaman dahulu dimana kesempatan masih sangat terbatas akibat keadaan ekonomi maupun budaya saat itu, sehingga banyak kasus di mana bila anak perempuan sudah  mengalami menstruasi biasanya remaja dijodohkan untuk segera menikah. 

 Uniknya, meski kesempatan sekarang sudah lebih luas dan pendidikan bahkan diwajibkan 12 tahun guna menyiapkan masa depan yang lebih baik, tak jarang beberapa anak muda justru lebih memimpikan untuk segera menikah. Bahkan ada yang memang ingin menikah dini dengan alasan tersendiri. Fenomena ini tentunya tidak terjadi dengan sendirinya, tapi dipengaruhi banyak hal mulai dari budaya yang turun temurun, keadaan ekonomi, pola asuh dan lingkungan. Namun ada pula faktor luar yang berkontribusi pada fenomena ini, yakni media dan tokoh masyarakat. Media yang seharusnya menjadi sumber edukasi memang sudah sempat menayangkan beberapa drama untuk menggambarkan dampak pernikahan dini, namun sayangnya persentase pesan jauh lebih sedikit dibanding persentase hiburan. Sehingga tayangan yang diberikan malah meromantisasi pernikahan dini. Namun apakah benar menikah dini seromantis tayangan di media? Atau sungguhkah menikah dini itu banyak nikmatnya? Yuk mari kita bahas sekarang juga!

Dalam Undang-Undang Nomor 1  tahun 1974 Pasal 1 tentang perkawinan menjelaskan bahwa “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dari pasal tersebut dijelaskan bahwa tujuan pernikahan yang utama ialah membentuk keluarga dan bahagia. Namun banyak yang membelokkan hal ini dengan menyebutkan menikah untuk menghindari dosa, pahala bahkan untuk melindungi diri. Yang mana kemudian menyebabkan banyak yang menyarankan untuk menikah sesegera mungkin, bahkan kadang hal tersebut muncul dari keinginan sendiri tanpa berpikir jangka panjang. Pernikahan muda atau pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan bila salah satu pelaku usianya tidak sesuai batas usia minimal yang diijinkan untuk menikah menurut Undang-Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, yaitu 19 tahun untuk perempuan maupun laki-laki dengan mempertimbangkan kesehatan reproduksi dan kematangan psikologisnya. Namun kenyataannya tak jarang yang melanggar aturan ini dengan adanya beberapa celah dalam undang-undang maupun pengadilan agama, salah satunya dengan meminta dispensasi kepada Kantor Urusan Agama (KUA). Hal ini mencermikan peran pemerintah masih belum maksimal untuk mencegah adanya pernikahan dini. Dukungan orang tua terhadap praktik menikah dini juga tak kalah berperan aktif, karena dalam pengajuan izin di pengadilan tidak akan diterima tanpa ijin dari orang tua. Hal inilah yang masih menyuburkan praktik Nikah Muda di Indonesia, tanpa memikirkan lebih jauh tantangan yang akan dihadapi pasangan muda ini nantinya, terlebih dalam budaya partiarki yang menyebabkan ketimpangan peran gender. 

Pernikahan dini pada remaja berdampak mulai dari segi fisik hingga biologis, yang dikutip dari penelitian Mubasyaroh (2016) di mana remaja yang hamil akan lebih mudah menderita anemia selagi hamil dan melahirkan, hal inilah yang menjadi penyebab tingginya kematian ibu dan bayi. Remaja yang menikah dini juga dapat kehilangan kesempatan mengecap pendidikan yang lebih tinggi karena adanya batasan-batasan yang diberikan suami maupun keluarga, seperti pengakuan salah satu responden dalam penelitian Utami tahun 2015 yang berjudul “Penyesuaian Diri Remaja Putri yang Menikah Muda”. Mubasyaroh (2016) juga menyebutkan dalam penelitiannya mengenai Analisis Faktor Penyebab Pernikahan Dini dan Dampaknya bagi Pelakunya bahwa pernikahan dini dapat menyebabkan kemiskinan hingga bayi yang dilahirkan mengalami keterlambatan perkembangan.

Selain itu, dikutip dari hasil penelitian Minarni, dkk tahun 2014 yang berjudul “Gambaran Dampak Biologis dan Psikologis Remaja yang Menikah Dini di Desa Munding-Semarang” menerangkan beberapa dampak psikologis dari menikah dini, mulai dari adanya kecemasan karena memasuki kehidupan rumah tangga dan adanya peran baru sebagai orang tua yang akan membatasi kebebasan remaja tersebut dalam bergaul. Selain itu karena banyaknya tanggung jawab baru dan tekanan baik dari segi ekonomi, sosial maupun keluarga suami juga dapat menimbulkan perasaan tertekan pada remaja yang menikah dini. Adapun dampak psikologis lainnya yakni kekerasan psikis, depresi hingga kurang rasa percaya diri pada remaja yang menikah dini. 

Dampak psikologis yang disebutkan diatas diperkuat oleh hasil penelitian Setyawan dkk (2016) yang berjudul “Dampak Psikologis pada Perkawinan Remaja di Jawa Timur”, di mana pada penelitian didapatkan hasil bahwa perkembangan identitas remaja yang mengalami pernikahan di masa muda, menjadi relatif lambat karena banyaknya perubahan yang terjadi dalam waktu bersamaan membuat remaja kebingungan dalam beradaptasi. 

Didapatkan pula hasil bahwa akibat perubahan hubungan sosial setelah menikah menyebabkan remaja memiliki keterbatasan jika ingin menjalin hubungan sosial dengan temannya. Hal ini bisa disebabkan karena batasan yang diberikan oleh pasangan maupun keluarga, tapi ada pula yang disebabkan karena remaja merasa malu bahkan sengaja menutup diri dari teman-temannya. Ada pula remaja yang merasa canggung jika harus mengurus anak apabila bergabung dengan teman-temannya. 

Emosi pada remaja yang belum matang menjadikan remaja belum dapat memahami satu sama lain, sehingga rentan menimbulkan berbagai konflik yang memicu pertengkaran. Karena emosi yang masih labil pula, remaja menjadi tidak mau saling mengalah dalam menyelesaikan masalah rumah tangga. Hal ini diperburuk bila dalam penyelesaian masalah menggunakan kekerasan, yang dapat memicu stress pada remaja.

Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan depresi berat. Di mana dampak depresi berat pada tiap individu  berbeda. Dikutip dari Wulandari (2014) dalam “Infografis Dampak Fisik dan Psikologis Pernikahan Dini Bagi Remaja Perempuan” oleh Rosyidah dan Listya (2019), menjelaskan dampak depresi berat pada pribadi introvert akan menimbulkan perubahan perilaku seperti menarik diri dari pergaulan, menjadi pendiam atau bahkan yang terparah menyebabkan schizophrenia. Sementara depresi berat pada pribadi yang ekstrovert akan membuat perubahan perilaku untuk melakukan hal-hal aneh guna melampiaskan amarahnya. 

Dari sekian ulasan penelitian tersebut bisa dilihat berbagai risiko dan dampak dari menikah di usia muda. Menikah memang bukan hal yang mudah, karena bukan saja menyatukan dua individu namun juga dua keluarga. Terlebih bila sudah memiliki anak, tentu ada peran baru yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Untuk itu, sebelum menikah sebaiknya dipikirkan kembali tujuan utama dari pernikahan yang anda inginkan. Agar pernikahan yang awalnya diharapkan membawa kebahagiaan bukan justru memberikan kesengsaraan. Seperti lirik lagu pernikahan dini “bukan cintanya yang terlarang, hanya waktu saja belum tepat”, jadi pastikan dirimu memutuskan menikah saat sudah siap di waktu yang tepat, dan tentunya dengan orang yang tepat. 

Penulis: RinRas|Editor: Pradnyawidari Dharmika

Daftar pustaka

Infografis Dampak Fisik dan Psikologis Pernikahan Dini Bagi Remaja Perempuan . Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol. 1 No. 03, Mei-Agustus. Halaman 191-204.

Rosyidah, Elok Nuriyatur dan Listya, Ariefika. 2019. Infografis Dampak Fisik dan Psikologis Pernikahan Dini Bagi Remaja Perempuan . Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol. 1 No. 03, Mei-Agustus. Halaman 191-204.

Setyawan, Jefri., Marita, Rizka Hasna., Kharin, Ismi dan Jannah, Miftakhul. 2016. Dampak Psikologis pada Perkawinan Remaja di Jawa Timur. Jurnal Penelitian Psikologi 2016 Vol. 07, No. 02, Halaman 15-39

Minarni, May., Andayani, Ari. dan Haryani, Siti. 2014. Gambaran Dampak Biologis dan Psikologis Remaja yang Menikah Dini di Desa Munding-Semarang. Jurnal Keperawatan Anak. Vol. 2, No. 2, November 2014, Halaman 95-101.

Mubasyaroh. 2016. Analisis Faktor Penyebab Pernikahan Dini dan Dampaknya bagi Pelakunya. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosial Keagamaan. Vol. 7. No. 2. Desember 2016

Rosyidah, Elok Nuriyatur dan Listya, Ariefika. 2019.

Setyawan, Jefri., Marita, Rizka Hasna., Kharin, Ismi dan Jannah, Miftakhul. 2016. Dampak Psikologis pada Perkawinan Remaja di Jawa Timur. Jurnal Penelitian Psikologi 2016 Vol. 07, No. 02, Halaman 15-39

Undang-Undang Nomor 1  tahun 1974 Tentang Perkawinan diakses dari https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/47406/uu-no-1-tahun-1974. Tanggal 5 Oktober 2020. 

Utami, Fajar Tri. 2015. Penyesuaian Diri Remaja Putri yang Menikah Muda. Jurnal Psikologi Islami Vol. 1 No. 1. Juni 2015. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *