Self-esteem dan Perilaku Seks beresiko

Self esteem (sumber: pribadi)

Selama ini kita mengenal self-esteem dengan kata lain yaitu harga diri. Sebenarnya apa sih self-esteem atau harga diri ini? Self esteem merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan biasanya berhubungan dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri, hal ini berkaitan dengan mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju, serta menunjukkan tingkat keyakinan individu itu sendiri penting, berhasil, dan berharga (Coopersmith, 1967). Dalam teorinya, Rosenberg (1965) harga diri (self-esteem) merupakan suatu evaluasi positif ataupun negatif terhadap diri sendiri.  Menurut Rosenberg, terdapat tiga aspek dalam self-esteem individu, yaitu: 

  • Physical Self-esteem, aspek fisik yang berkaitan dengan kondisi fisik yang saat ini dimiliki oleh individu. Hal ini dapat dilihat dari penerimaan keadaan fisiknya.
  • Social Self-esteem, aspek sosial berhubungan dengan kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sosial dalam konteks membatasi atau menerima ragam orang sebagai temannya.
  • Performance Self-esteem, berkaitan dengan kemampuan dan prestasi yang didapatkan oleh seorang individu. Aspek ini akan mengukur seberapa puas dan percaya diri atas kemampuan yang dimilikinya.

Secara umum, harga diri (self-esteem) adalah pandangan keseluruhan dari individu mengenai dirinya sendiri.  Harga diri merupakan salah satu aspek yang penting mempengaruhi kontrol diri seseorang.

Berangkat dari pengertian tersebut, pada masa remaja konsep harga diri mengalami pergolakan akibat adanya harapan baru terhadap dirinya dan lingkungan sosial. Hubungan seksual pranikah dapat memberikan dampak negatif seperti hilangnya self-esteem. Pada budaya Timur, hubungan seksual pranikah adalah perilaku yang dilarang. Sikap tersebut juga bertentangan dengan norma agama dan sosial-budaya yang berlaku. Dalam budaya Timur norma agama dan sosial-budaya masih sangat kental. 

Di Indonesia sendiri perilaku seks beresiko banyak dilakukan oleh remaja, data ini dibuktikan pada hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan remaja usia 15-19 tahun  (belum kawin/menikah) yang sudah melakukan hubungan seksual yaitu laki-laki (4,5%) dan perempuan (0,7%). Remaja laki-laki dengan usia 15-19 tahun pernah berpegangan tangan, (72,8%), cium bibir (37,3%), merangsang/meraba (21,6%), dan hubungan seks pranikah (4,5%). Pada remaja perempuan usia 15-19 tahun sudah berpegangan tangan (66,7%), cium bibir (23,6%), merangsang/meraba (4,3%), dan melakukan seks pranikah (0,7%). Data ini menunjukkan bahwa perilaku seks pranikah pada kelompok usia remaja 15-19 tahun cukup tinggi. 

Remaja mampu mengontrol diri untuk berperilaku menyimpang atau tidak, tergantung pada tingkat harga dirinya. Remaja yang tidak dapat mengontrol perilaku seksnya akan mengalami penurunan self-esteem, karena sikapnya telah melanggar norma yang ada. Self-esteem ini menurun akibat telah hilanganya keperawanan atau keperjakaan. Akibatnya, remaja mengalami perasaan negatif terhadap dirinya sendiri. Perasaan negatif yang timbul adalah rasa bersalah, menganggap dirinya kotor, tidak berharga, tidak percaya diri, serta adanya ketakutan tidak diterima pada lingkungan sosialnya. Selain itu remaja dengan harga diri rendah cenderung tidak dapat mengendalikan emosi dan agresif, tidak dapat mengekspresikan diri dengan baik, dan tidak dapat mengatasi konflik dengan sempurna.

Sebaliknya, remaja yang memiliki harga diri tinggi tidak akan melakukan hal negatif yang dapat menurunkan tingkat self-esteemnya. Self-esteem yang tinggi, remaja dapat lebih mengontrol perilaku seksnya. Remaja tidak akan melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri, ia mampu membedakan sikap baik dan buruk. Serta memiliki pedoman bahwa tindakannya tidak bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku. 

Lantas, apa saja faktor yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah?

  • Kurangnya perhatian dari orang tua. Peran orang tua dalam kehidupan remaja sangat penting, karena bertugas untuk memberikan perhatian dan pengarahan agar tidak terjerumus pada hal negatif. 
  • Adanya perubahan hormon, saat memasuki masa remaja terjadinya proses kematangan pada organ seksnya sehingga membutuhkan penyaluran.
  • Rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba hal yang belum diketahui dan dilakukan, serta adanya informasi yang tidak terbatas jumlahnya semakin mendorong remaja perilakunya tanpa mengetahui bahaya atau dampak negatifnya.
  • Faktor lingkungan, lingkungan dalam hal ini meliputi relasi dengan sebayanya dan sosialnya sehingga dapat membuat remaja melakukan seks beresiko.
  • Masuknya budaya asing terutama western, yang lebih mengutamakan hawa nafsu dan remaja tidak memiliki sikap untuk memilah mana budaya yang baik atau buruk untuk diterapkan dalam kehidupannya.
  • Rendahnya pengetahuan tentang bahaya seks beresiko, menyebabkan remaja mudah terjerumus dalam pergaulan beresiko terutama seks pranikah.
  • Menonton tayangan pornografi. Saat ini banyak tayangan pornografi di internet dan tak jarang dapat diakses oleh semua usia termasuk remaja. Semakin banyak tontonan negatif yang dilihat dapat berpengaruh pada kondisi kognitifnya dan akhirnya disalurkan pada perilakunya. Sebaliknya, jika melihat tayangan yang mendidik dapat menghasilkan perilaku yang baik. 

Adakah cara untuk menjaga atau meningkatkan self-esteem agar tidak terjerumus pada perilaku seks beresiko?

  • Melakukan self-talk pada diri sendiri

Mencoba untuk berbicara hal positif terhadap diri sendiri dapat mempengaruhi cara menghargai diri sendiri. Sehingga dapat mengontrol perilaku yang nantinya akan dilakukan.

  • Mencari tantangan atau hobi yang dapat mengembangkan diri

Aktivitas positif dapat menjadi salah satu cara untuk menghargai diri karena memberikan perspektif baru pada diri sendiri. Kegiatan baru yang positif dapat mengikis pikiran negatif yang muncul dan dapat dijadikan sarana penyaluran emosi atau pikiran negatif melalui perilaku positif. 

  • Mencari dukungan dari teman yang positif 

Perasaan harga diri yang positif atau negatif dapat dirasakan lingkungan pertemanan. Mendapatkan dukungan dari teman yang positif dapat meningkatkan rasa harga diri individu karena memberikan pandangan yang lebih positif pada diri individu. 

Sumber :

https://www.balitbangham.go.id/detailpost/maraknya-budaya-seks-bebas-di-era-globalisasi-suatu-refleksi-moral
https://riliv.co/rilivstory/apa-itu-self-esteem/
https://journal.ubm.ac.id/index.php/psibernetika/article/view/1153

Penulis : Trisna

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *