Peran Penting Remaja Menyuarakan Haknya

Pada Ruang Berbagi episode 38, Aliansi Satu Visi (ASV) kembali mengadakan Kolase (Kolaborasi Aksi Remaja Sehat) dalam rangkaian acara puncak perayaan program GUSO (Get Up Speak Out) pada Kamis, 15 Oktober 2020 jam 15.00-17.00 WIB dengan judul “Advokasi Efektif Untuk Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi” yang ditayangkan secara online melalui siaran langsung youtube chanel Aliansi Satu Visi.

Kolase kali ini pandu oleh  Sri Agustine yang merupakan Direktur Ardanary Institute sebagai moderator. Dan seperti episode sebelumnya, kali ini ASV kembali mengundang narasumber yang telah berperan aktif dalam usaha pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). 

Narasumber pertama yaitu Elisabet Widyastuti yang merupakan Direktur Eksekutif PKBI Jawa Tengah. Lalu ada juga Ananius Donatus D. Rure atau yang biasa dipanggil Nando merupakan staff Advokasi Institute Hak Asasi Perempuan (IHAP). Selanjutnya ada Erlis Susanti, SE yang merupakan Ketua TP PKK Kelurahan Kelapa Dua Wetan. Dan narasumber keempat yaitu Tri Indarti, S.KM yang merupakan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Denpasar. 

Seperti episode Kolase sebelumnya, episode kali ini juga dilengkap dengan penerjemah bahasa isyarat untuk memudahkan akses bagi teman-teman tuli. Pada awal acara Agustin selaku moderator memberikan penjelasan singkat mengenai Kolase yang dilanjutkan dengan perkenalan narasumber beserta materi yang akan dibawakan. Dimulai dari Elisabet atau yang kerap dipanggil Lisa akan menjelaskan seputar praktik-praktik baik terkait advokasi pendidikan seksualitas yang komprehensif dan layanan kesehatan ramah remaja di kota Semarang. Kemudian Nando yang akan membahas topik tentang bagaimana membangun jaringan remaja sebagai aktor advokasi HKSR di kota Kupang. Berikutnya Tri Indarti akan membahas seputar komitmen pemerintah daerah kota Denpasar untuk pemenuhan HKSR remaja. Dan Erlis Susanti yang akan bercerita seputar pentingnya partisipasi tokoh masyarakat dalam mendukung pemenuhan HKSR bagi remaja khususnya di DKI Jakarta. Agustin juga menjelaskan peraturan selama acara berlangsung, seperti cara mengajukan pertanyaan dan kewajiban untuk mejaga keamanan serta kenyamanan bersama selama acara berlangsung. 

Sebelum sesi diskusi dan materi, acara diawali dengan pemutaran video cerita dari salah satu tokoh advokasi HKSR Indonesia yaitu ibu Zumrotun K Susilo yang membahas pentingnya advokasi pemenuhan HKSR bagi semua orang. Usai pemutaran video, Agustin mengulas sedikit bahasan dalam video akan pentingnya advokasi HKSR terlebih dengan banyaknya persoalan-persoalan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (KSR) yang dihadapi remaja terutama terkait kekerasan seksual seperti pemerkosaan yang belakangan sering dilakukan oleh orang terdekat (inses). Dan dalam beberapa kasus, remaja yang sebagai korban justru dikriminalkan atau mendapat sanksi pidana padahal sudah jelas remaja tersebut adalah korban. “Persoalan-persoalan ini tentu saja menjadi penting untuk kita perhatikan mengingat juga pemerintah seperti yang digambarkan oleh ibu Zumrotun, belum memberikan perlindungan atau pemenuhan HKSR kepada remaja secara maksimal sehingga persoalan-persoalan itu begitu banyak” jelas Agustin.

Sesi materi pun dari narasumber pun dimulai dari Nando yang menjelaskan pendapatnya mengenai makna advokasi. “Menurut saya advokasi merupakan sebuah media untuk kita bisa menyampaikan aspirasi dan suara kita, menyampaikan keinginan dan harapan kita. Jadi menurut saya advokasi ini adalah media untuk kita menyampaikan dan bersuara sebebas-bebasnya gitu” ungkap Nando.

Nando juga menjelaskan capaian dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi program GUSO, dimana salah satu capaian terbesarnya yakni kolaborasi dari remaja dan guru PJOK untuk mengadvokasi Dinas Pendidikan Provinsi guna mengimplementasikan pendidikan seksual reproduksi di kota Kupang yang mana merupakan awal implementasi serupa di seluruh kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Jadi melalui kolaborasi yang luar biasa ini meskipun program GUSO sudah berakhir, di tahun 2021 akan ada pendidikan seksual reproduksi yang diberikan melalui pelajaran PJOK di kota Kupang dan akan diikuti oleh seluruh kabupaten di NTT. 

Sesi dilanjutkan dengan penerangan sesi oleh masing-masing narasumber yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan menjawab pertanyaan di kolom komentar youtube. Acara kemudian ditutup pernyataan dari Nando “ Mungkin ini menjadi komitmen daya dan teman-teman di Kupang wilayah Timur Indonesia, kami berkomitmen bersama untuk memastikan bahwa teman-teman remaja di NTT di tahun 2021 sudah dan akan mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif di sekolahnya masing-masing. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *