Sepak Terjang Program Get Up Speak Out (GUSO)

Puncak penutupan Program GUSO semakin dekat. Sebelum acara puncak yang ditunggu-tunggu, diadakanlah “Press Conference” guna mengenal lebih dalam program Get Up Speak Out (GUSO) mulai dari tantangan yang dihadapi hingga capaian yang didapatkan. “Press Conference” KOLASE : Kolaborasi Aksi Remaja Sehat diadakan pada Senin, 25 Oktober 2020 pada jam 13.00-15.00 WIB. Acara ini dilakukan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan langsung pada kanal youtube Aliansi Satu Visi. 

Acara kali ini dipandu oleh Ika Nindyas sebagai moderator yang membuka acara dengan menjelaskan secara singkat mengenai perjalanan Aliansi Satu Visi dalam pemberian program Get Up Speak Out (GUSO) di kota Bandar Lampung, Semarang, Denpasar, Kupang dan Jakarta sejak 2016 yang bertujuan untuk mendukung pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja. Ika juga menambahkan “Bertepatan di hari Sumpah Pemuda, Aliansi Satu Visi bersama 9 lembaga anggota yang menjalankan Program GUSO yaitu PKBI Bali, PKBI DKI Jakarta, Yayasan Pelita Ilmu, PMI Jakarta Timur, Rutgers Indonesia, Ardhanari Institut, PKBI Jawa Tengah, PKBI Lampung dan IHAP akan mengadakan perayaan puncak 5 tahun perjalanan program GUSO yang bertajuk KOLASE : Kolaberasi Aksi Remaja Sehat pada Rabu, 28 Oktober 2020 pukul 09.00-12.00 WIB” terang Ika.

Kemudian Ika memperkenalkan 3 narasumber yang telah hadir, yaitu Bonitha Merlina selaku Ketua Pokja Get Up Speak Out. Ada juga Adhitya Putri Utami atau yang kerap dipanggil Tami yang merupakan staff pemberdayaan remaja Aliansi Satu Visi. Terakhir ada Riska Oktavia Setiawan yang merupakan Youth Champion dari Yayasan Pelita Ilmu (YPI). 

Pemaparan pertama dimulai oleh Bonitha yang menjelaskan secara detail visi dan perjalanan program GUSO yang telah berlangsung sejak 2016-2020. 

“Program GUSO ini bertujuan untuk memberdayakan remaja berusia 10-24 tahun agar mereka memiliki otonomi yang bertanggung jawab untuk menentukan pilihannya dan menggunakan hal seksual dan reproduksinya. Tanpa stigma, diskriminasi, kriminalisasi melalui program-program yang membangun gerakan remaja, pendidikan seksualitas komprehensif, layanan kesehatan ramah remaja serta kampanye dan advokasi kebijakan.” jelas Bonitha.

Bonitha juga menambahkan bahwa “Program GUSO ini bukan saja mendampingi remaja namun juga orang tua, guru, sekolah, pendidik sebaya, petugas kesehatan, tokoh agama dan tokoh masyarakat juga salah satunya bermitra dengan jurnalis guna mendukung rekan-rekan remaja agar dapat melalui masa remaja mereka dengan sehat, percaya diri dan memiliki kebebasan berpikir kritis sehingga mereka terhindar dari prilaku berisiko melalui berbagai kegiatan penguatan kapasitas”.

Bonitha lanjut menjelaskan seputar perjalanan implementasi program GUSO yang berfokus memberdayakan remaja, sehingga strategi utama yang digunakan ialah dengan mengajak remaja ikut terlibat aktif. Selama impementasi GUSO ternyata tidak hanya fokus menjalankan program dan rencara kerja saja, namun ada juga evaluasi yang diadakan oleh Aliansi Satu Visi.

“Di tahun 2016 kami mulai dengan melakukan beberapa diskusi-diskusi perencanaan akan program ini, kemudian bersama teman-teman remaja juga kita membuat proposal bersama untuk mencari sponsor program ini selama 5 tahun. Di tahun yang sama kami juga melakukan baseline survey dan pendekatan dengan stakeholder. Lalu tahun 2016-2018 itu kami melakukan implementasi program, dan di tahun 2018 juga kami melakukan midline survey (penilaian tengah tahun) untuk melihat seberapa jauh progres atau perkembangan program GUSO sejak tahun 2016. Penilaian ini juga untuk melihat apakah program GUSO sesuai kebutuhan remaja dan sesuai rencana program yang dirancang sejak awal. Kemudian di tahun 2018-2019 ini kami berfokus untuk pendekatan dengan stake holder guna membangun dukungan adanya kebijakan yang ramah bagi remaja. Dan pada 2020 yang merupakan tahun terakhir kami melakukan penutupan program dengan berbagai kegiatan kreatif dalam kondisi pandemi saat ini.” ungkap Bonitha. 

Selama 5 tahun program GUSO diimplementasikan, banyak capaian yang telah diperoleh baik dari segi kuantitas maupun kualitas, diantaranya sebanyak 188.363 orang remaja yang berdaya dan memiliki kemampuan menyuarakan kebutuhannya terhadap Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR). Kemudian ada sebanyak 488 orang pendidik yang terdiri dari guru dan pendidik sebaya di 213 sekolah serta komunitas yang menjadi perantara pendidikan kesehatan seksual reproduksi. Dalam hal layanan ada 192.594 remaja yang telah mendapatkan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang ramah remaja melalui 33 Puskesmas dan layan mitra seperti lembaga swadaya masyarakat yang memiliki layanan. Program GUSO juga telah berhasil membangaun komitmen dengan pemerintah di masing-masing daerah untuk melanjutkan inisiatif baik dari program ini di daerah masing-masing. 

Sesi kemudian dilanjutkan dengan Riska yang merupakan salah satu penerima manfaat GUSO yang menceritakan awal mula perjalanannya terlibat dalam program GUSO.

“Awalnya aku saat itu masih jadi pelajar mendapatkan salah satu program GUSO dan disana ada proses inspire. Disana saya merasakan manfaatnya secara bertahap dan berprogres, terlebih dalam proses penyampaian informasi itu dilakukan secara aman dan nyaman sehingga remaja merasakan dampaknya baik secara mental, sosial maupun penambahan wawasan. Termasuk aku yang terinspirasi untuk mencari tahu lebih lanjut seputar programnya. Hingga akhirnya kami remaja yang telah terinspirasi dilibatkan kembali dalam program-programnya melalui pelatihan dan kapasitasi terkait kesehatan reproduksi dan keterampilan lainnya. Melalui program GUSO ini juga kami remaja diyakinkan bahwa kami bisa untuk menyuarakan hak kami dan menunjukkan bahwa remaja itu punya kekuatan. Karena remaja itu penting buat negara, karena kita salah satu aset yang dimiliki negara” cerita Riska dengan semangat.

“Perubahan yang paling aku rasakan setelah terlibat dalam program GUSO yaitu aku bisa berdaya diatas kaki aku sendiri, karena dulu aku kurang percaya diri dan belum mengenal diri sendiri seutuhnya. Tapi sekarang aku tahu diriku, aku juga tahu apa yang aku punya, aku tahu kekuatan apa saja yang aku miliki dan itu berguna untuk masyarakat. Pengetahuan aku juga bertambah seputar kesehatan reproduksi dan itu bermanfaat banget, bukan hanya buat aku tapi juga temen-temen dan lingkunganku” tambah Riska.

Selanjutnya narasumber terakhir yaitu Tami menjelaskan seputar KOLASE yang merupakan perayaan penutupan program GUSO nasional dan sekilas acara puncak yang akan diadakan pada tanggal 28 Oktober 2020 yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. 

Acara kemudian ditutup dengan pesan penutup dari Bonitha yang berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi, dan hal ini sangat membutuhkan bantuan jurnalis yang bergerak dalam bidang media informasi untuk membantu remaja terlindungi dari situasi-situasi kekerasan seksual dengan menyebarkan informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *