Kita adalah Pahlawan

Ilustrasi Kita adalah Pahlawan (sumber: creativart)

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri”. – Raden Kartini

10 November selalu diperingati sebagai hari pahlawan. Selama ini, yang kita tahu tentang pahlawan adalah sosok yang selalu berkorban untuk orang lain daripada mengutamakan dirinya sendiri, entah dalam karakter fiksi (dongeng) dan non fiksi. Contohnya dalam karakter fiksi adalah Captain Marvel, sosok pahlawan perempuan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran kelompok alien Skrull. Pada dunia nyata, Bung Tomo yang melawan penjajah Belanda di Surabaya. Sebenarnya, apa makna pahlawan sesungguhnya? Makna pahlawan sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta yaitu phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Apabila dikaitkan dengan perjuangan merupakan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.  

Bayangan kita selama ini tentang pahlawan selalu sosok yang rela berkorban bagi orang lain, tapi pernahkah berpikir untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri? Terkesan egois, tapi sebenarnya tidak. Kita butuh mengapresiasi diri sendiri atas kerja keras yang sudah dilakukan selama ini. Tidak terhitung sudah seberapa banyak air mata yang menetes, peluh yang bercucuran, dan jatuh bangun selama melewati kerasnya kehidupan. Sebab itu, kita dapat menjadi pahlawan bagi diri sendiri.  Tidak perlu biaya mahal untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri, memberikan waktu istirahat untuk diri sendiri dari hiruk pikuknya aktivitas adalah cara termudah. Membiarkan diri melepas stres dan kejenuhan, agar tidak burnout. JIka  menonton serial kesukaan pada platform Netflix atau VIU, dapat membuat rileks dan tertawa – lakukanlah. Hal sederhana, tapi sangat berarti bagi diri sendiri.

Apakah dengan mengabaikan keinginan “menolong” orang lain, seketika langsung mematikan jiwa kepedulian sosial kita? Tidak. Keinginan tersebut masih ada dalam diri kita, hanya saja diabaikan dalam beberapa saat untuk mengutamakan kebutuhan diri sendiri. Memberikan ruang bagi diri sendiri dalam sementara waktu dapat dijadikan proses untuk berefleksi. Mengingat apa saja yang sudah diperjuangkan dan dilakukan, serta melihat kembali dampak apa yang kita terima selama ini. 

Selaras dengan kutipan Raden Ajeng Kartini di atas, sikaplah yang dapat menjatuhkan diri kita sendiri. Menghargai diri sendiri termasuk sebuah sikap yang dapat membangkitkan atau malah menjatuhkan. Ketika kita menghargai permintaan “tolong” seseorang tetapi di luar kapasitas diri sendiri, kita tidak menghargai diri sendiri. Maka dari itu, sebelum menuruti yang diinginkan oleh orang lain, cobalah untuk mendengarkan suara hati yang memberitahu apa yang kita inginkan. Mampukah kita melakukannya? Jangan sampai saat kita menuruti permintaan orang lain malah merasa terbebani karena tidak sanggup melakukannya dan bersembunyi dibalik kata “tidak enak” untuk menolak. Kita tak harus memenuhi permintaan orang lain yang sebenarnya kita saja tidak mampu melakukannya. Saat kita menyayangi diri sendiri, maka semesta akan memandang kita pantas untuk disayangi. 

Menjadi pahlawan untuk membebaskan diri dapat diwujudkan dengan lebih menerima diri sendiri secara fisik, tidak menyaman standar ideal fisik dengan orang lain. Melepaskan pola pikir yang buruk untuk mengikuti mode dan gaya hidup yang belum tentu sesuai dengan diri sendiri hanya demi gengsi.  Menerima diri sendiri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki justru dapat meningkatkan kepercayaan diri kita dan dapat mematahkan gengsi untuk mengikuti orang lain. Jangan sampai kita mementingkan orang lain tetapi mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Ingatlah menyayangi diri sendiri merupakan hal yang penting, sebab kita telah berusaha untuk memenuhi keinginan. Usaha ini akan menjadi keteguhan yang membantu diri kita menjadi lebih tangguh. Karena pemenang sejati adalah individu yang dapat menerima dan mengembangkan kehidupannya, tidak mengutamakan gengsi yang menghancurkan kehidupannya sendiri.

Selamat hari pahlawan, untuk aku dan kamu. Terima kasih sudah bertahan dan berjuang sejauh ini dalam kerasnya kehidupan ini. Jangan lupa memanjakan dirimu sebelum bertarung kembali. Ingatlah kita adalah pahlawan dalam kehidupan masing-masing dan jadilah pahlawan bagi diri sendiri sebelum menjadi pahlawan bagi orang lain. 

Penulis: trisna abigail

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *