Kekerasan Terhadap Perempuan dan Red Flags

Ilustrasi Kekerasan Terhadap Perempuan (sumber: freepik)

Kasus kekerasan terjadap perempuan selama ini masih disoroti oleh berbagai pihak terutama para aktivis perempuan, karena kekerasan pada perempuan sampai saat ini belum berhasil untuk diberantas. Selain itu Indonesia menduduki peringkat ke-13 sebagai negara yang tidak aman bagi perempuan, hasil tersebut diperoleh dari perusahaan riset yang berbasis di Singapura, Value Champion pada tahun 2019. 

Selain hasil riset di tahun lalu, kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Indonesia pada tahun 2020 jumlahnya terus meningkat. Menghimpun data dari situs Komnas Perempuan, hasil dari catatan tahunan (CATAHU) yang diluncurkan oleh Komnas Perempuan pada 6 Maret 2020  tercatat sepanjang tahun 2019 terdapat 431.471 kasus kekerasan pada perempuan yang terdiri dari 421.752 kasus ditangani oleh Pengadilan Agama, 14.719 kasus yang ditangani lembaga mitra pengada layanan di Indonesia, 1.419 kasus dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan. 

Mariana Amiruddin selaku Komisioner Komnas Perempuan, mengungkapkan bahwa selama 12 tahun terakhir kekerasan pada perempuan terus meningkat sebanyak 792 persen. Menurutnya, kasus kekerasan pada perempuan adalah fenomena gunung es yang mana banyak kasus terjadi tetapi tidak dilaporkan oleh korban. Selain itu, selama 3 tahun terakhir Komnas Perempuan juga mencatat pola baru dari kekerasan pada perempuan yaitu kekerasan berbasis gender secara daring.

Melihat data CATAHU 2020, angka kekerasan berbasis pola baru ini terus meningkat. Sepanjang tahun 2019 tercatat 281 kasus yang dilaporkan secara langsung ke Komnas Perempuan. Temuan lain dari hasil CATAHU 2020, kasus kekerasan siber meningkat sebanyak 300% dari tahun sebelumnya. Komnas Perempuan menyebutkan penyebab dari anak perempuan dan perempuan seringkali menjadi korban penyebaran video dan foto porno dari pacar dan/atau orang terdekatnya.

Terkait kasus kekerasan ini terdapat cara untuk mengetahui apakah mengalami kekerasan atau tidak dapat dilihat dari relasi dengan pasangan. Hubungan yang terjalin menunjukkan indikasi adanya red flags atau tidak. Red flags atau tanda peringatan dari hubungan yang kerap kali muncul saat seseorang atau pasangan adalah pelaku kekerasan dan ‘diri kita sendiri menjadi korbannya. 

Beberapa red flags yang perlu diketahui dalam sebuah relasi adalah adanya kesulitan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi, mengontrol perilaku akibat kurangnya kepercayaan, tidak dapat sepenuhnya menjadi diri sendiri, dan kesulitan untuk berbagi perasaan dengan pasangan. Selain itu sebuah hubungan seharusnya menambah kebahagiaan, apabila pasangan melarang untuk melakukan hobi yang digemari dan bergaul dengan teman, hal tersebut dapat menjadi indikasi red flags.

Mengalami kekerasan dalam bentuk apapun baik emosional, verbal, fisik, seksual, keuangan, dan merendahkan kepercayaan diri juga bentuk dari tanda peringatan bahwa relasi yang dibangun tidak sehat. Pertimbangkan kembali apakah perasaan tersebut muncul dalam hubungan dengan pasanganmu atau tidak. 

Sumber:

https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-siaran-pers-dan-lembar-fakta-komnas-perempuan-catatan-tahunan-kekerasan-terhadap-perempuan-2020

https://womantalk.com/love/articles/4-tanda-anda-berada-dalam-hubungan-yang-beracun-xVlNk

Penulis: Trisna Abigail

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *