Mengenal People Pleaser: Karena Berkata “Tidak” Bukan Hal yang Buruk dan Berkata “Ya” Tidak Selalu Baik

Ilustrasi People Pleaser (sumber: Zahra Maay)

“Iyadeh aku aja yang kerjain yaaa..”

“Sebenernya mau nolak, tapi aku ga enak bilangnya”

“Aku takut mereka ga nyaman”

“Kalo aku gabisa, mereka marah gak yaa”

Halo sobat ASV, apa kabar kalian? Semoga sehat selalu ya ☺ 

Pernah ga sih kalian merasakan pertentangan batin seperti di atas? atau mungkin, punya teman yang seperti itu? Saat ini ketika masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya self love, yang lebih dari sekedar merawat diri, mengenakan pakaian terbaik, ataupun memberikan self reward tiap kali berhasil melakukan sesuatu, self love juga melibatkan aspek menyadari diri sendiri, menghargai diri sendiri, percaya diri, dan peduli pada diri sendiri. Walaupun sebagian besar individu menyadari pentingnya mencintai diri sendiri, ada beberapa orang memiliki kecenderungan untuk melakukan banyak hal bahkan menomorduakan kebutuhan diri sendiri, contohnya mengalami pertentangan batin kayak di atas itu. Orang yang memiliki kecenderungan ini dinamakan people pleaser. Menurut Merriam Webster & Susan Newman, people pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha melakukan atau mengatakan hal yang menyenangkan orang lain, meski bertentangan dengan apa yang ia pikirkan atau rasakan, hal ini bertujuan agar orang lain tidak kecewa padanya.

People pleaser cenderung selalu berkata “Ya” jika orang lain membutuhkan bantuan, walaupun kadang harus mengabaikan pekerjaannya sendiri. Hal ini dilakukan agar dirinya merasa diterima dan disukai. Menurut Amy Morin, people pleaser merupakan masalah serius dan harus segera diatasi. Apa saja tanda-tanda seorang people pleaser, yuk disimak:

  1. Berpura-pura setuju dengan pendapat orang lain dan merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain

Tetap mendengarkan pendapat orang lain ketika hal itu bertentangan dengan hati nurani adalah salah satu kemampuan komunikasi yang baik, tetapi jika dilakukan hanya untuk menyenangkan orang lain dan menekan kemampuan untuk mengungkapkan pendapat sendiri, hal itu menjadi tidak baik untuk dilakukan, apalagi merasa harus menjaga perasaan orang lain dan akhirnya mengabaikan kesempatan untuk berpendapat

  1. Terlalu pemikir, sering meminta maaf, dan sulit menolak permintaan orang lain

People pleaser akan sulit menolak permintaan orang lain sehingga merasa harus mendahulukannya diatas kebutuhan dirinya sendiri. Selain itu, ketakutan akan orang lain akan menyalahkannya atas pekerjaan yang dilakukan mendorong rasa ingin meminta maaf duluan akan muncul. Hal ini juga akan membuat people pleaser akan berpikir berlebihan akan kekurangannya

  1. Jarang meminta bantuan, karena merasa akan merepotkan orang lain

Selain berpikir akan mengecewakan orang lain, people pleaser juga merasa khawatir jika dirinya akan merepotkan orang lain jika meminta bantuan. People pleaser akan berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri

  1. Membutuhkan pujian dan tidak merasa nyaman jika orang lain bersikap berbeda

Hal yang mendasari people pleaser selalu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri adalah ingin terlibat dan menjadi orang penting dalam hidup seseorang, sehingga mendapat pujian yang membuatnya merasa nyaman. People pleaser juga merasa tidak nyaman jika mendapat sikap seseorang yang berbeda, itu akan membuatnya merasa tidak disukai

Sederhananya, people pleaser adalah mereka yang memiliki sifat “tidak enakan” atau takut menolak permintaan dari orang lain. Orang yang masuk dalam kategori people pleaser biasanya memiliki latar belakang yang berat sehingga penerimaan atau pengakuan dari orang lain menjadi begitu penting dalam hidupnya, sehingga itu menyebabkan perasaan sedih, kecewa, bahkan minder atau kurang percaya diri ketika tidak mendapatkan respon yang baik dari sekelilingnya. Sekilas, menjadi people pleaser terdengar sangat positif karena mereka adalah pribadi yang ramah, murah hati, inisiatif, hangat, peduli, menyenangkan, dan ringan tangan. Tetapi, dibalik itu sifat ini mempunyai dampak buruk yang berakibat ke berbagai macam gangguan psikologi kepada diri people pleaser itu sendiri. 

Bagaimana cara mengatasinya? Mulailah dengan menyadari potensi diri tanpa harus selalu menggantungkan harapan ke orang lain, jadi gak perlu terlalu khawatir dengan penilaian orang lain. Selanjutnya mulailah memikirkan prioritas kepentingan diri sendiri dan orang lain, merasa nyaman dan jujur terhadap diri sendiri. Setelah itu, pribadi dengan people pleaser membutuhkan proses untuk mengungkapkan pendapat pribadi ke orang lain. Satu catatan penting bahwa bersikap baik pada orang lain adalah hal yang wajib dilakukan. Namun, nggak perlu berlebihan sampai merelakan segala cara sampai mengesampingkan diri sendiri.

Penulis: Zahra

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *