Body Positivity: The Way I Love My Body

Ilustrasi Body Positivity (sumber: macrovector)

“Kamu cantik, tapi gendut. Diet dong, biar langsing!”

“Kurus amat, ga pernah makan?”

“Cantik ya, tapi sayang kulitnya gelap”

“Rambut kamu kribo, gamau dilurusin aja?”

Kalimat tersebut rasanya sering kita dengar, entah kita sendiri yang mengalaminya atau dari cerita orang terdekat. Apakah salah jika bentuk tubuh kita tidak sesuai dengan standar kecantikan yang berlaku di lingkungan? Jawabannya adalah tidak.

Setiap individu yang memiliki  bentuk tubuh kurus ataupun gemuk, jika tetap  menjaga kesehatan sah-sah saja untuk merasa puas dengan bentuk tubuhnya. Orang lain tidak berhak untuk mengatur kenyamanan seseorang, termasuk kenyamanan atas bentuk tubuh yang dimiliki. Berangkat dari kasus body shaming, muncul gerakan body positivity yang mengajak setiap individu untuk lebih menerima dan mencintai apapun bentuk tubuh yang dimiliki dan menghiraukan komentar “jahat” tentang bentuk tubuh. 

Apa itu Body Positivity?

Dilansir dari situs Yayasanpulih.org, body positivity adalah individu yang menanam pola pikir positif terhadap dirinya sendiri dan orang lain layak memiliki pandangan positif pada tubuhnya sendiri. Terlepas dari bagaimana lingkungan masyarakat, budaya, atau tren terhadap gambaran tubuh ‘ideal’.  

Tujuan dari body positivity adalah mengatasi standar kecantikan yang tidak realistis atau tidak masuk akal, selain itu untuk membangun kepercayaan diri sendiri dan orang lain. Sejarah singkat tentang body positivity mulai berkembang mulai tahun 1850-1890-an, di mana perempuan menentang standar sosial, bahwa perempuan harus memiliki pinggang kecil. Munculnya gerakan tersebut diprakarsai oleh gerakan Victorian Dress Reform, hingga saat ini gerakan body positivity terus berkembang.  

Body positivity ini bisa dibilang penting untuk ditanamkan pada diri sendiri. Mengapa begitu? Hal tersebut erat kaitannya dengan kesehatan mental seseorang yang mana mempengaruhi bagaimana cara seseorang memandang tubuhnya sendiri melalui berpikir, merasakan, atau bertindak atas persepsi atau pandangan terhadap tubuhnya sendiri (body image) . Individu yang memiliki body image positif, maka ia telah menanamkan pola pikir body positivity. Selain itu individu yang telah memiliki pola pikir positif terhadap tubuhnya akan lebih menikmati dan menerima keadaan tubuhnya.

Menanamkan pola pikir positif pada citra tubuh yang dimiliki memang tidak mudah. setiap dari kita akan merasakan jatuh-bangun sampai akhirnya berhasil melakukan hal tersebut. Proses melakukan body positivity  seperti melawan arus di tengah tingginya standar kecantikan yang ada dan terkadang tidak realistis. Standar kecantikan tidak hanya berlaku pada perempuan saja, tetapi laki-laki juga mengalaminya. Laki-laki biasanya harus memenuhi standar seperti badan gagah, perut yang berotot, dan wajah tampan.

Munculnya body positivity ini diharapkannya para perempuan maupun laki-laki dapat menilai dirinya secara positif tanpa harus memenuhi standar ideal yang dibentuk oleh lingkungan, budaya, dan tren. Tidak perlu memaksakan diri untuk dapat “terlihat” di lingkungan dengan memenuhi standar ideal yang menyiksa diri. Sebab jika kita memaksakan diri untuk memenuhinya, kita tidak akan pernah puas dengan hal yang kita miliki. Kita hanya menyenangkan lingkungan, tapi lupa untuk menyenangkan diri sendiri.

Cara Membangun  Body Positivity

Membangun body positivity memang butuh perjuangan dari diri sendiri, mengalami jatuh-bangun sampai akhirnya berhasil menanamkan pola pikir yang positif jadi lebih memahami keadaan diri sendiri. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membangun body positivity adalah adanya dukungan dari lingkungan yang positif. Lingkungan yang positif dapat mempengaruhi pola pikir dan keadaan psikis kita. Ketika berada di lingkungan yang positif, kita memiliki cara pandangan yang jauh terbuka dari  peristiwa yang terjadi.

Kedua, memberikan reward pada diri sendiri atas hal yang sudah kamu lakukan. Tak ada salahnya jika memberikan hadiah pada diri sendiri setelah melewati rintangan, karena memberikan kado pada diri sendiri adalah sebuah apresiasi untuk menghargai diri sendiri. Kado yang diberikan tidak harus selalu dengan barang, bisa dengan menikmati waktu santai sambil menonton film, melakukan hobi, dan liburan singkat. Hal lainnya adalah memikirkan hal positif yang dapat membangkitkan semangat diri sendiri.

Berikutnya adalah berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dengan kemajuan teknologi yang ada, semakin mudah seseorang untuk membandingkan hidupnya dengan orang lain melalui media sosial. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang atau dialami orang lain dibalik unggahannya pada media sosial. Belajar untuk menghargai dengan hal yang dimiliki jauh lebih baik ketimbang membandingkan diri dengan orang lain. 

Cara lainnya adalah dengan mengubah cara pandang kita terhadap peristiwa yang terjadi. Kita tidak selalu bisa mengubah apa yang terjadi pada diri kita. Tetapi kita bisa mengubah cara pandang kita yang tadinya hanya memikirkan sisi negatifnya saja, secara perlahan melihat sisi positif dari peristiwa yang terjadi. Sehingga terhindar dari perasaan negatif yang dapat memicu stres.

Terakhir, jangan lupa untuk selalu bersyukur atas hal yang dimiliki. Selalu mengucapkan terima kasih pada anggota tubuh yang sudah menemanimu seharian beraktivitas adalah langkah awal untuk menghargai dan bersyukur atas tubuh yang kamu miliki. Ingatlah bahwa bentuk tubuh tidak menentukan kualitas diri seseorang. Maka dari itu mulailah untuk menghargai tubuhmu.

Body positivity bukan hanya sekedar tren yang sedang hype saja, tetapi adalah cara kita untuk memecahkan standar ideal yang ada dan tak jarang dipaksakan pada setiap individu. Membangun body positivity bukan berarti berhenti merawat diri sendiri dan menjadi masa bodoh dengan keadaan tubuh. melainkan menjadikannya sebagai sebuah proses untuk merawat dan menemukan kenyamanan diri sendiri.

Kita belajar untuk menciptakan kenyamanan terbaik bagi diri sendiri, bukan kita yang mengikuti kenyamanan dari standar ideal yang telah dibentuk. JIka kamu nyaman dengan keadaan tubuhmu sekarang, maka lanjutkan yang terpenting adalah tetap merawat diri dan menjaga kesehatan baik fisik maupun mental. 

“Your body is a flower that life let bloom.” – Ilchill Lee

Sumber :

Lalu A.R, Neila R. 2016. Hubungan antara Harga Diri dan Body Image dengan Online Self-Presentation pada Pengguna Instagram. Gadjah Mada Journal of Psychology. 2(3): 172-183

Penulis: Trisna Abigail

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *