Implementasi Modul Aku Bisa

Pandemi tak menghalangi semangat berbagi informasi. Inilah yang terjadi di KISARA atau Kita Sayang Remaja yang merupakan perkumpulan remaja di bawah bimbingan PKBI Bali. Perkumpulan yang telah berusia lebih dari ¼ abad ini terdiri dari relawan-relawan remaja yang aktif dan semangat berbagi pengetahuan juga mencari pengalaman baru. 

Kali ini KISARA bekerja sama dengan organisasi nasional bernama Go-Pintar guna mengimplementasikan Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi melalui modul “Aku Bisa” yang dirangkum oleh relawan-relawan KISARA. Ide program ini tercetus karena terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sejak masa pandemi virus Corona (COVID-19) hingga 75%. Ni Nengah Budawati yang merupakan Founder Bali Woman Crisis Center (WCC) juga menyampaikan bahwa selama pandemik ini dalam satu bulan pihaknya menangani 10 sampai 12 kasus. Kasus-kasus itu antara lain kekerasan seksual yang cenderung dilakukan oleh orang terdekat, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan persoalan pola asuh antara orangtua dan anak.

Psikolog P2TP2A Kota Denpasar dan Psikolog Pradnyagama Bali juga mencatat terdapat terdapat 8 kasus kekerasan seksual di Kota Denpasar hingga Agustus 2020. Dimana 5 dari 8 kasus tersebut terjadi pada bulan Mei-Agustus dimana masa pandemi Covid-19. Tingginya angka kekerasan seksual di Bali selama pandemi inilah yang menjadi landasan KISARA melakukan program CSE (Comperehensif Sexual Education) Aku Bisa, yakni pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi secara komprehensif menggunakan modul Aku Bisa sebagai panduan. 

Kegiatan ini dilakukan disalah satu rumah singgah di Bali yaitu di Jodie O’Shea House Yayasan Cinta Kasih Anak, dengan menyasar remaja di Jodie O’Shea House yang menempuh jenjang pendidikan SMP (Sekolah Menengah Pertama) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas) sebagai peserta. Implementasi program ini berlangsung selama 4 hari yakni pada tanggal 17,18, 20 dan 21 November 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan selama kegiatan dan melibatkan 5 orang fasilitator pada tiap pertemuannya. CSE Aku Bisa bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja seputar kesehatan reproduksi dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi. 

“Kegiatannya bermanfaat banget, materi favoritku itu tentang sistem reproduksi. Aku jadi mulai memperhatikan organ reproduksi, contohnya pas banget nih aku sekarang lagi menstruasi jadi aku mulai lebih rajin ganti pembalut, kalau dulu mah males soalnya nggak tau kalau ganti pembalut harus 4-6 jam sekali jadinya paling pas mandi baru ganti. Terus aku juga jadi tau cara cebokan yang bener.” Ungkap Ambu Raya yang merupakan salah seorang peserta penerima Modul Aku Bisa.

Modul ‘AKU-BISA’ yang disusun melalui berbagai literatur baik modul maupun jurnal ini, menekankan bahwa setiap remaja mampu dan berhak untuk berdaya serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab terkait pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksinya secara mandiri sehingga remaja mampu terhindar dari berbagai risiko pelecehan dan kekerasan seksual yang ada disekitarnya. Pada modul ini terdapat panduan informasi seputar kesehatan reproduksi yang mencakup pubertas, perilaku seksual dan risikonya hingga Sexual Gender Based Violence (SGBV) atau kekerasan berbasis gender. 

Modul Aku Bisa (sumber : Staff KISARA PKBI BALI)

Selain itu juga terdapat panduan edukasi psikologis yang dapat mendukung kesehatan mental remaja sebagai penerima manfaat, seperti self acceptance atau penerimaan diri. Modul diberikan dengan berbagai metode, mulai dari ceramah, diskusi kelompok hingga bermain peran sehingga materi akan lebih melekat juga mudah diterima.

Selama 4 hari kegiatan berlangsung, selain memberikan materi juga dilakukan uji sebelum pemberian materi (pre-test) dan uji setelah pemberian materi  (post-test) guna melihat perkembangan peserta kegiatan, yang mana secara tidak langsung juga dijadikan bahan evaluasi terhadap efektivitas kegiatan, materi hingga metode yang diberikan.

Melalui kegiatan ini diharapkan remaja di Jodie O’Shea House Yayasan Cinta Kasih Anak mampu menjadi remaja yang berdaya, bertanggung jawab dan mampu mengambil keputusan secara mandiri serta memiliki pengetahuan agar terhindar pelecehan seksual, kekerasan seksual, dan berbagai perilaku seksual yang berisiko. Melalui implementasi CSE ini pula diharapkan hasilnya dapat digunakan untuk mengadvokasi Kepada Dinas terkait seperti Dinas sosial kabupaten/kota atau provinsi dengan harapan program akan diadopsi menjadi program rutin yang dilakukan oleh dinas sosial kepada rumah singgah ataupun panti asuhan lainnya.

Penulis: Rina

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *