Cerita Perubahan: Menjadi Terbuka Melalui Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Cerita Perubahan (sumber: PIK-R Sanjoyo)

Siapa sangka aku akan mengenal dunia kesehatan reproduksi sejauh ini. Awal mula aku kenal dengan dunia HKSR (Hak Kesehatan Seksual Reproduksi) ini saat memasuki bangku SMA. Saat itu setiap siswa kelas X diwajibkan untuk mengikuti minimal satu ekskul yang ada di sekolah dan aku masih belum tahu ingin mengikuti kegiatan apa.

Lalu, saat pelajaran bimbingan konseling datanglah para pengurus tiap ekstrakurikuler untuk memperkenalkan kegiatannya. Kemudian ekstrakurikuler ini memperkenalkan identitasnya sebagai PIKR Sanjoyo yaitu kepanjangan dari Pusat Informasi Konseling Remaja Santo Joseph Yogyakarta.

Hal yang membuatku tertarik adalah kegiatannya yang tidak banyak mengeluarkan tenaga. Para pengurus tersebut menceritakan bahwa ekskul ini berfokus pada kesehatan reproduksi remaja yang bermitra dengan PKBI DIY. Akhirnya aku mengikuti ekskul tersebut selama setahun, ternyata banyak materi yang aku dapat dan ekspektasiku tentang ekskul yang tidak mengeluarkan effort banyak mulai runtuh.

Selama mengikuti kegiatan ini ternyata lebih banyak tenaga dan pikiran yang dikeluarkan, Ketika mengikuti pelatihan aku dan teman lainnya juga harus bisa menerapkan di kehidupan sehari-hari. 

Dalam perjalanan mengenal kesehatan reproduksi, aku juga belajar tentang penyakit yang bisa terjadi saat alat reproduksi tidak dijaga. Materi hak kesehatan seksual dan  reproduksi tidak hanya tentang alat reproduksi saja, di dalamnya terdapat  hak bagaimana kita mencintai diri kita sendiri, hak mendapatkan informasi, hak mendapatkan perlindungan, hak untuk mengakses layanan kesehatan, dan hak bebas dari kekerasan.

Setelah setahun lebih mengikuti kegiatan PIK-R, banyak hal yang berubah pandanganku terhadap hal berbau seksual mulai terbuka. Aku merasa tidak lagi tabu untuk membicarakan hal tersebut. Buatku ketika pengetahuan seksual semakin jarang dibicarakan atau didiskusikan maka akan semakin tabu.

Dari kegiatan yang telah dilakukan, aku juga semakin sadar ternyata banyak remaja yang belum sadar akan pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi. Banyak dari mereka yang melakukan hubungan seks tidak aman dan berujung pada kehamilan tidak diinginkan, serta tidak sedikit juga yang melakukan aborsi karena belum siap untuk hamil atau karena tekanan orang di sekitarnya.

Bila tidak melakukan aborsi, pasangan remaja tersebut dinikahkan dan hal ini meningkatkan angka pernikahan usia dini pada remaja. Oleh karena itu aku juga akhirnya mengetahui beragam alat kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan. Salah satunya kondom yang dapat mencegah terjadinya kehamilan dan mudah diakses.

Dari pengalaman ini aku juga belajar untuk menjadi diri sendiri dan lebih mencintai tubuhku. Dulu aku selalu merasa kurang dengan penampilan fisik seperti kulitku yang gelap, rambut mengembang, dan badan yang gemuk. Usaha untuk memutihkan kulit, meluruskan rambut, dan menurunkan berat badan alias diet aku lakukan.

Tetapi ada di satu titik, aku merasa sangat lelah. Aku melakukan itu semua hanya untuk memuaskan orang lain bukan untuk diriku sendiri. Akhirnya secara perlahan aku mengubah pola pikirku yang awalnya aku merawat diri untuk memuaskan omongan orang, kini aku merawat diri untuk memuaskan diriku sendiri dan bisa dibilang sebagai bentuk cinta pada diri sendiri. Setelah aku melakukannya, aku merasa lebih senang dan bisa menerima keadaan tubuhku.

Mungkin jika aku tidak mengenal dunia kesehatan seksual dan reproduksi yang cakupannya luas ini, tidak akan ada aku yang sekarang. Aku yang lebih menghargai diriku sendiri dan kehidupanku. Aku merasa bersyukur bisa menambah wawasan kesehatan seksual dan reproduksi ini, karena aku mendapatkan ilmu  dan teman-teman baru. 

Penulis: Trisna Abigail

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *