Diskusi Film: Emak Menolak

Diskusi Film Emak Menolak (sumber: instagram.com/demafisipolugm)

Film “Emak Menolak” merupakan karya dari Anggun Pradesha dan Riska Carolina. Sinopsis dari film ini adalah emak dan anaknya datang dari 2 pulau yang berbeda, bercengkerama di pesisir pantai Sanur yang terimbas pandemi. Ejaan rencana Negara sangat sulit diucapkan Emak ketimbang mendengar dan merespon narasi hidup anaknya yang memiliki kodrat berbeda. Di tebing bebatuan tepi laut, Emak menolak agenda buruk yang akan menimpa kelompok minoritas.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fisipol UGM yang diadakan pada Minggu (22/11) melalui platform zoom meeting dan dihadiri langsung oleh Anggun Pradesha selaku sutradara dan produser dari Film Emak Menolak dan Riska Carolina sebagai produser Film Emak Menolak. 

Film ini ditujukan untuk mengangkat isu RKUHP yang dianggap merugikan kaum minoritas. Maka dari itu Anggun bersama Riska memilih untuk mengangkat isu ini melalui film dan dikemas secara unik yaitu dalam bentuk obrolan santai antara ibu dan anaknya yang menjadi transpuan.

Bagi keduanya, film merupakan cara strategis yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai seksualitas yang berkaitan dengan transgender. Saat ditanyai cara untuk menahan atau menghentikan RKUHP, Riska menjawab “ya dengan menjalani kehidupanmu seperti biasanya.

Kalau memang tidak bisa turun ke jalan (aksi demo) ya lakukan dengan campaign melalui tulisan yang diunggah ke media. Bisa juga dengan membuat desain poster tentang dampak dari RKUHP, mengajak orang lain untuk berdiskusi, atau cukup menandatangani petisi penolakan RKUHP itu juga udah cukup”. Film ini juga tujuannya untuk mengadvokasi orang tua tentang transgender, selain itu seksualitas harus didiskusikan dalam ranah akademik agar tidak lagi tabu.

Melalui film ini, diharapkan dapat membuka wawasan terhadap transgender. Apabila memiliki phobia terhadap transgender harus dikaji ulang, mengapa phobia tersebut terjadi. Jangan sampai memusnahkan suatu kaum tertentu hanya karena dosanya ia dengan Tuhan-Nya akibat menjadi transgender. Hal tersebut biarlah menjadi urusan individu yang bersangkutan dengan Tuhan-Nya, sebagai manusia perbaiki dan urusi saja hubungan dengan sesama untuk memajukan  dan memperjuangkan kebutuhan bersama.

Penulis: trisna abigail

Editor: Pradnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *