Rekomendasi Film untuk Memperingati Hari Anti Kekerasan Pada Perempuan

Ilustrasi Kekerasan Terhadap Perempuan (sumber: voiceofyouth.org)

Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di seluruh dunia. Selama ini,  kekerasan masih terus berlangsung hingga sekarang dan mungkin saja terjadi di dalam lingkungan sekitar kita. Berbagai macam bentuk kekerasan yang dapat dialami oleh siapapun, terkhusus pada perempuan. 

Terdapat empat bentuk kekerasan, yang pertama yaitu kekerasan seksual, Kekerasan yang masuk dalam ranah ini adalah pelecehan seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, dan segala macam bentuk kekerasan yang bernuansa seksual.

 Lalu, kekerasan secara fisik, kekerasan ini yang paling mudah untuk dideteksi karena berupa luka yang menimbulkan rasa sakit di tubuh korban. Bentuknya berupa tamparan, menendang, mencubit, memukul, dan bentuk  kekerasan fisik lainnya.  

Berikutnya kekerasan dalam bentuk sosial dan ekonomi yang mengakibatkan penelantaran ekonomi dan pemiskinan obat. Kasus yang kerap terjadi adalah suami yang melepas tanggung jawabnya untuk membiayai istri dan anaknya saat menjalin hubungan rumah tangga. Selain itu, apabila dalam relasi pacaran adalah tuntutan untuk membiayai salah satu pihak secara terus menerus dan disertai ancaman. 

Bentuk kekerasan yang selanjutnya adalah kekerasan secara psikis. Kekerasan psikis ini dapat berupa tingkah laku atau perkataan yang merendahkan harga diri seseorang, apabila dialami dalam jangka panjang maka akan menyerang psikisnya. Kekerasan ini sedikit lebih sulit untuk dideteksi efeknya. Bisa saja korban yang berperilaku baik-baik saja di lingkungan sekitarnya, memiliki psikis yang rapuh akibat kekerasan yang dialaminya.  Terakhir, kekerasan dalam bentuk sosial/budaya yang membahayakan.

 Kekerasan sosial/budaya yang membahayakan meliputi sunat perempuan, perkawinan paksa, dan perkawinan usia dini. Tentunya setiap daerah memiliki adatnya tersendiri, contohnya di Sumba yang memiliki adat jika perempuan diantar pulang terlalu malam oleh laki-laki maka harus segera dikawinkan. Jika tidak dilakukan perkawinan, maka akan mencoreng nama si gadis tersebut dan keluarganya. Perkawinan tersebut dinamakan kawin tangkap, yang berinti pada kawin paksa atas tuntutan adat. 

Setelah mengetahui berbagai  bentuk kekerasan yang dapat dialami perempuan, tentunya terdapat faktor yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi.

 Mungkin selama ini kita hanya tahu faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama kekerasan pada perempuan, tapi nyatanya masih ada fakor lain yang menjadi pemicu kekerasan ini terjadi. Lantas, apa saja faktor penyebabnya? Pada situs Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KEMENPPPA) “Perempuan Rentan Jadi Korban KDRT, Kenali Faktornya”, menyebutkan bahwa ada empat faktor terjadinya kekerasan pada perempuan yang didasari dari hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun  2016.

Pertama, faktor individu perempuan. Faktor ini melihat dari bentuk pengesahan perkawinan seperti kawin siri, agama, paksaan, adat,  kontrak atau mungkin bentuk lainnya berpotensi 1,42 kali lebih besar mengalami secara fisik/seksual dibandingkan dengan perempuan yang menikah secara resmi dan diakui oleh negara melalui catatan sipil atau KUA. Selain itu perempuan yang sering bertengkar dengan pasangan rentan terhadap kekerasan fisik dan/seksual sebesar 3.95 kali lebih tinggi daripada perempuan yang tidak bertengkar dengan pasangan. Serta perempuan yang kerap menyerang pasangannya terlebih dahulu memiliki resiko 6 kali lebih besar mengalami kekerasan fisik/seksual ketimbang perempuan yang tidak menyerang pasangannya. 

Kedua, adanya faktor dari pasangan. Pada bagian ini, perempuan yang berpotensi tinggi mengalami kekerasan fisik dan/seksual adalah mereka yang memiliki pasangan pengguna narkotika, peminum, memiliki pasangan lain, berselingkuh, dan adanya pembatasan aktivitas. 

Ketiga, faktor ekonomi. Perempuan yang berasal dari rumah tangga kelompok 25% termiskin memiliki risiko 1,4 kali lebih besar mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan dibandingkan kelompok 25% terkaya. Aspek ekonomi merupakan aspek yang lebih dominan menjadi faktor kekerasan pada perempuan dibandingkan dengan aspek pendidikan. 

Terakhir, sosial budaya yang menjadi penyebabnya. seperti timbulnya rasa khawatir akan bahaya kejahatan yang mengancam. Perempuan yang selalu dibayangi kekhawatiran ini memiliki risiko 1,68 kali lebih besar mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan, dibandingkan mereka yang tidak merasa khawatir. Perempuan yang tinggal di daerah perkotaan memiliki risiko 1,2 kali lebih besar mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan dibandingkan mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Selain dari KEMENPPPA, portal berita idntimes.com dalam judul beritanya “3 Faktor Penyebab Angka Kekerasan pada Perempuan Terus Meningkat” menyatakan faktor utama dari kejadian kekerasan pada perempuan adalah faktor budaya. Hal ini menempatkan perempuan pada posisi yang lemah atau rendah dibandingkan laki-laki. Akibatnya, menjadikan perempuan tidak setara dan dianggap bergantung pada laki-laki. 

Lalu, disusul faktor lingkungan dan fakor negara yang menjadi agen perubahan dalam pencegahan kekerasan pada perempuan. Pemerintah sudah sewajar dan sewajibnya memberikan sanksi hukum yang tegas bagi para pelaku kekerasan pada perempuan atau pun pada komunitas lainnya.

Perempuan yang mengalami fenomena tersebut belum tentu berani dan mampu untuk melaporkan kejadian tersebut. Para korban kekerasan belum melaporkan kasus kekerasan, sering kali disebabkan ketakutan untuk melaporkannya atau bahkan dibungkam oleh orang yang berada di lingkungan sekitarnya.  

Apa sebenarnya yang mempengaruhi perempuan enggan melaporkan peristiwa tersebut khususnya pada kasus kekerasan seksual? Dilansir dari wolipop.detik.com, Psikolog Meity Arianty STP.,M.Psi,. dan perwakilan dari komunitas perEMPUan, Rika Rosvianti mengatakan bahwa terdapat empat alasan yang mempengaruhi perempuan korban pelecehan seksual tidak melaporkan kasusnya.

 Pertama, tidak adanya perlindungan bagi korban kekerasan seksual. Korban biasanya cenderung disebarluaskan identitasnya oleh media tanpa disamarkan identitasnya. Kedua, adanya ketidaksiapan untuk menghadapi proses hukum. Hal ini disebabkan karena proses hukum di Indonesia yang belum tentu berpihak pada korban dan cenderung prosesnya lama. Ketiga, tak memungkiri bahwa korban pelecehan seksual dilaporkan kembali oleh pelaku. Kejadian ini kerap dialami oleh perempuan karena tuduhan palsu karena tidak memiliki bukti dan dianggap pencemaran nama baik terhadap pelaku. Keempat, undang-undang pelecehan yang ada di Indonesia belum spesifik. Kekerasan seksual secara verbal saja belum ada undang-undangnya, padahal kekerasan seksual tidak hanya berupa kontak fisik. Keempat alasan tersebut yang membuat para korban enggan melaporkan kasusnya, alih-alih mendapatkan perlindungan hukum dari negara malah disudutkan oleh penegak hukum atau pelaku.

Oleh karena itu untuk memperingati Hari Anti Kekerasan Pada Perempuan dan membuka pengetahuan tentang bentuk serta dampak dari kekerasan pada perempuan, terdapat rekomendasi film yang secara perlahan menyadarkan kita bahwa kekerasan ini bisa terjadi di lingkungan sekitar bahkan orang terdekat sekalipun.  

  1. Raksasa Dari Jogja
Poster film Raksasa dari Jogja (sumber: starvision)

Film Raksasa dari Jogja secara jelas menunjukkan dampak buruk dari kekerasan pada perempuan. Kisahnya tentang Bian yang tinggal di perumahan elit Jakarta dan pacar yang tampan. Realitanya, sungguh berbeda. Sejak kecil, Bian selalu hidup dalam ketakutan. Papanya yang dikenal orang sebagai seorang politikus terhormat, sering melakukan KDRT terhadap mamanya. Lalu, Bian memutuskan pindah ke Jogja karena muak dengan sikap papanya dan dengan berat hati Bian meninggalkan mamanya  di Jakarta. 

  1. 27 Steps of May
Poster film 27 Steps of May (sumber: 27stepsofmay.com)

27 Steps of May bercerita tentang MAY yang diperkosa oleh sekelompok orang pada Kerusuhan Mei 1998. Ayah May  sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat melindungi anaknya. Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. Ia menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, atau kata-kata, sementara ayahnya terjebak oleh perasaan bersalah dan melampiaskannya di ring tinju.

Sumber

https://regional.kompas.com/read/2020/09/20/06070051/perkawinan-anak-hingga-kawin-tangkap-janji-terucap-karena-tuntutan-adat?amp=1&page=2

https://www.idntimes.com/news/indonesia/fitang-adhitia/3-faktor-penyebab-angka-kekerasan-pada-perempuan-terus-meningkat/3

https://wolipop.detik.com/love/d-4920716/4-alasan-korban-pelecehan-seksual-tak-mau-lapor-polisi

https://www.fimela.com/news-entertainment/read/3745012/5-film-indonesia-yang-mengkampanyekan-anti-kekerasan-pada-perempuan

Penulis: trisna abigail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *